ILMU BERKHOTBAH (HOMILETIKA)
DASAR-DASAR HOMILETIKA
Pdt. Philip Nikanor Surbakti, M.Th
APA ITU HOMILETIKA?
Homiletika
berasal dari kata Yunani “Homilia” yang mempunyai arti dasar; perundingan,
penguraian atau khotbah. Homiletika dapat didefinisikan sebagai berikut; Ilmu
Berkhotbah atau pelajaran berbicara di hadapan orang banyak supaya pokok yang
disampaikan dapat disajikan dengan cara yang terang, nyata dan berkuasa. Tekanan
dalam kata ini adalah bagaimana cara memberitakan pengajaran Kristen secara
teratur, sistimatis dan sedap didengar agar pendengar dapat menerima dengan
baik serta dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Definisi
di atas mengandung dua indikasi yaitu; persiapan bahan khotbah, dan yang utama
persiapan menyampaikan khotbah. Itu berarti homiletika adalah sebuah ilmu yang
praktis yaitu mempelajari bagaimana cara memberitakan pengajaran Kristen
termasuk syarat-syarat dalam mendidik seseorang menjadi seorang pemberita
firman yang baik.
APA ITU KHOTBAH
1.
Khotbah adalah ketrampilan komunikasi dari suatu konsep atau
gagasan Alkitabiah yang dapat diambil melalui penafsiran yang benar dari
ayat-ayat Alkitab (itu sebabnya pelajaran hermeneutika adalah syarat mutlak
bagi orang yang mau belajar homiletika) dan diterapkan melalui kuasa Roh Kudus
pada kehidupan pengkhotbah dan pendengar khotbah (Yakobus berkata bahwa iman
tanpa perbuatan adalah mati).
2.
Khotbah adalah Firman Tuhan yang diterima, dirasakan dan
dilakukan oleh diri sendiri kemudian diutarakan dengan tegas dan nyata, supaya
menjadi kesaksian dan jalan keselamatan bagi orang lain.
KEDUDUKAN HOMILETIKA DALAM TEOLOGI
Secara
umum teologi dibagi dalam 4 bagian besar, yaitu :
1.
TEOLOGI BIBLIKA
Teologi ini bertugas menggali arti
dan makna yang benar serta kebenaran- kebenaran yang ada di dalam Perjanjian
Lama dan Perjanjian Baru sebagai pegangan iman. Ilmu yang termasuk di dalamnya
antara lain; Introduksi PL dan PB, Eksposisi PL dan PB, Bahasa Ibrani dan
Yunani, Hermeneutika-Eksegese (ilmu tafsir). Teologi PL dan PB.
2.
TEOLOGI SISTEMATIKA
Teologi ini bertugas menemukan,
merumuskan dan mempertahankan dasar iman sambil menyelidiki cara dan pengalaman
iman, dalam berpikir dan bertindak terhadap obyek yang bersifat dogmatis.
Bidang-bidang yang termasuk antara lain: Teologi Proper, Doktrin Trinitas,
Kristologi, Pneumatologi, Bibliologi, Eklesiologi, Eskatologi, Sinologi,
Angelologi, Teologi Paulus, Teologi Calvin, dll.
3.
TEOLOGI HISTORIKA
Teologi ini bertugas mengikuti dan
menyelidiki perkembangan pengajaran dan sejarahnya, gereja dan sejarahnya,
misalnya: Sejarah Gereja Dunia, Sejarah Gereja Asia, Sejarah Gereja Indonesia,
Sejarah Doktrin, dll.
4.
TEOLOGI PRAKTIKA
Teologi ini bertugas memikirkan dan
melancarkan cara penyampaian iman dalam usaha pemberitaan agar relevan dan
mengena. Pendeknya, teologi ini bertugas untuk memikirkan bagaimana ketiga
teologi di atas dapat memaknai hidup manusia. Bidang-bidangnya antara lain;
Homiletika, Kateketik, Evangelisasi, Misiologi, Pendidikan Kristen,
Apologetika, Pertumbuhan Gereja, Manajemen Gereja, Kepemimpinan Kristen, Metode
Pekabaran Injil, dll.
Jadi
jelas letak Homiletika atau ilmu berkhotbah adalah di bawah disiplin teologi
praktika. Sering dalam diskusi yang terjadi di antara mahasiswa teologi ada
anggapan menganggap rendah teologi praktika. Sesungguhnya teologi praktika
punya peranan yang sama pentingnya dengan ketiga bidang teologi yang lain.
Misalnya seorang yang punya banyak modal tidak mungkin dapat menghasilkan suatu
barang jika tidak ada yang mengerjakannya. Jika ada yang mengerjakannya menjadi
suatu barang tetapi tidak ada yang memasarkannya maka barang tersebut tidak
berarti karena tidak akan menghasilkan keuntungan yang besar. Tanpa ilmu
praktika, mungkin doktrin dan pengertian Alkitab sulit dimengerti dengan baik
oleh orang lain. Saya berpendapat, ketiga bidang teologi tersebut sama
pentingnya. Tanpa kehadiran yang satu maka yang lain akan terasa kurang.
DASAR TEOLOGIS KHOTBAH
1.
KEYAKINAN AKAN ALLAH
Allah pencipta itu ada dan terus ada
tetapi karena dosa manusia tidak dapat mengenal keberadaan Allah secara benar.
Keberadaan Allah yang adalah terang, keberadaan Allah yang adalah kasih,
keadilan dan kedaulatan Allah, pemeliharaan dan hukuman Allah, semua yang nyata
jelas dalam Alkitab, harus diajarkan dan diberitakan melalui khotbah. Manusia
perlu mengenal Allah. Allah berfirman, “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan
bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih daripada
korban-korban bakaran” Hosea 6:6. Hanya dengan mengenal Allah manusia
akan mengerti siapa dirinya dan bagaimana harus menjalankan hidup ini. Dengan
kata lain pengenalan akan Allah akan membuat manusia bahagia.
2.
KEYAKINAN AKAN ALKITAB
Alkitab adalah Firman Allah dari
Allah yang kekal. Allah masih dan terus akan berbicara melalui Firman-Nya
(Alkitab) yang berkuasa untuk mengajar, untuk menyatakan dosa dan kesalahan,
untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran Allah (2TIM
3:16). Alkitab adalah terang dan hikmat bagi manusia. Dari Alkitab manusia
dapat menemukan jalan keselamatan, dan menolong manusia untuk bertumbuh dalam
kebenaran.
3.
KEYAKINAN BAHWA ALLAH BISA MEMAKAI MULUT MANUSIA UNTUK
KEMULIAAN-NYA
Waktu Yesus akan meninggalkan para
muridnya, Ia memberikan Amanat Agung, yaitu untuk menyaksikan pribadi dan
karya-Nya. Itu berarti manusia dapat menjadi alat pemberitaan Firman Allah.
Manusia harus mengenal Firman Allah dengan benar dan kemudian belajar untuk
melakukannya baru dapat memberitakan Firman Allah dengan baik dan benar. Memang
seorang dapat juga pengkhotbah memanipulasi ayat-ayat Alkitab dan
menggunakannya untuk keuntungan pribadi, namun dari segi positif, Allah mau
berkomunikasi kepada manusia lewat seorang pengkhotbah. Robinson berkata, “The
pracher seeks to bring the message of definite units of God’s Word to this
people” Namun perlu diingat bahwa pengkhotbah dapat salah berkhotbah tetapi
Firman Allah tidak pernah salah.
4.
KEYAKINAN BAHWA SESUNGGUHNYA MANUSIA BUTUH FIRMAN
TUHAN
Firman
Tuhan menjawab semua kebutuhan manusia. Adapun kebutuhan manusia itu a
dalah:
a.
Kebutuhan akan Injil
Manusia perlu mendengar Injil yang
olehnya manusia dapat diselamatkan, dilepaskan, dari segala penderitaan karena
dosa. Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya. (Rom
1:16-17)
b.
Kebutuhan akan Ajaran
Manusia perlu mendapat ajaran yang
sehat yang mengajarkan segala kebenaran Allah dalam Alkitab. Ajaran-ajaran
tersebut memberi pengertian kepadanya akan hal hidupnya yang dapat diberkati
Tuhan. (Maz 119:66, 130).
c.
Kebutuhan Etika
Manusia perlu mengetahui bagaimana
ia dapat menjalankan hidupnya dalam hubungannya dengan sesamanya, baik dalam
keluarganya, di antara umat Tuhan, maupun di tengah-tengah masyarakat pada
umumnya agar ada ketentraman. (Maz 119:165)
d.
Kebutuhan untuk Melayani
Manusia perlu mengetahui bagaimana
ia dapat menyatakan terima kasihnya kepada Tuhan dengan berpartisipasi dalam
pelayanan. Dengan kasih Kristus dalam hatinya ia tidak dapat menjadi anggota
tubuh Kristus yang pasif saja. Ia harus melayani. Alkitab berkata, “Karena kita
ini buatan Allah diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan perbuatan baik
yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita ini hidup di
dalamnya” (Efe 2:10) Sesungguhnya manusia diciptakan oleh Allah adalah
juga untuk melayani Dia.
e.
Kebutuhan untuk Memuji dan Menyembah Tuhan
Pemazmur berkata, “Tujuh kali dalam
sehari aku memuji-muji Engkau, karena hukum-hukum-Mu yang adil” (Maz 119:164)
Manusia perlu mencurahkan hatinya kepada Tuhan pencipta dan juruselamatnya. Ia
perlu menyatakan kasihnya kepada Tuhan dengan memuji dan menyembah-Nya.
TUJUAN KHOTBAH
1.
MANUSIA MENGENAL ALLAH SECARA BENAR
Manusia perlu mengenal Allah dengan
benar agar mengerti jalan kebenaran (Yoh 14:6); manusia perlu mengenal
Allah yang penuh kasih agar manusia mengenal kasih sejati yang penuh perhatian,
penghargaan, penghiburan, dari Yesus Kristus; manusia perlu mengenal keadilan
dan hukuman Allah agar manusia bertobat dan berhati-hati hidup dalam dunia ini;
dan lain sebagainya. A. W. Tozer berkata, “Kepastian bahwa Allah (karena
pengenalan akan Allah) itu selalu berada di dekat kita, hadir di segala bagian
dunia ciptaan-Nya, lebih dekat kepada kita daripada pikiran kita sendiri
seharusnya memberikan kebahagiaan batin kepada kita…” Jadi khotbah bertujuan
agar manusia mengenal Allah dan mengenal-Nya semakin hari semakin baik.
2.
MENERANGKAN YESUS KRISTUS DAN KARYA-NYA YANG SUDAH GENAP
DAN SEMPURNA
Alkitab berkata, “Sesungguhnya
barangsiapa mendengarkan perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku,
ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah
dari alam maut ke dalam hidup” (Yoh 5:24). Sebagaimana Yesus
menginginkan agar para pengikut-Nya memberitakan Injil, maka melalui khotbah
hendaknya pribadi dan karya Kristus yang merupakan inti berita Alkitab
diterangkan dan dengan demikian manusia mengenal Yesus.
3.
MENGUBAH KEHIDUPAN (PERTOBATAN)
Seorang pengkhotbah sebaiknya juga
mengharapkan agar Roh Kudus memakai khotbahnya, supaya orang berdosa mengalami
peristiwa kelahiran baru di dalam Kristus dan didamaikan dengan Allah (Yoh
16:18).
4.
MENGUBAH ORANG MENJADI SEMAKIN DEWASA
Perubahan menuju kepada kedewasaan
dalam iman yang dimaksud yaitu; dalam pengetahuan yang benar tentang Allah dan
firman-Nya/doktrin (Efe 1:17), meneguhkan dan menimbulkan iman (Rom
10:17; Ibr 4:12), pertumbuhan karakter dan sifat, dan sebagainya (Mat
28:19-20; Gal 5:22-26)
5.
MENGHIBUR ORANG YANG GELISAH/KUATIR/MENDERITA
Jika seseorang diindoktrinasi secara
benar dalam pengajaran Firman Allah maka ia menjadi cukup kuat dalam menghadapi
pencobaan dan seperti Tuhan Yesus yang dicobai di padang gurun, Ia dapat
berkata, “Ada tertulis” (Mat 4:4, 7, 10).
6.
SUPAYA ALKITAB DICINTAI SEBAGAI PEDOMAN HIDUP YANG UTAMA
Daud berkata, “Firman-Mu pelita bagi
kakiku dan terang bagi jalanku” Maz 119:105. Alkitab adalah jawaban atas
semua pergumulan, ketakutan dan kerinduan manusia.
Oleh karena tujuan yang demikian
mulia dari suatu khotbah, maka sebaiknya khotbah disampaikan dengan
memperhatikan tiga prinsip yaitu:
·
Pertama, Khotbah harus disampaikan dengan menarik. Jika khotbah
yang bagus disampaikan tanpa memperhatikan prinsip ini maka akan ada banyak
orang yang tidak dapat mengikuti khotbah tersebut dengan seksama.
·
Kedua, Khotbah harus disampaikan sejelas mungkin sehingga
sebagian besar jemaat (syukur kalau bisa semua) dapat mengerti. Khotbah perlu
disampaikan dengan suara yang jelas, kata-kata yang jelas, alur pikiran yang
jelas dan terutama berita/pesan yang jelas.
·
Ketiga, Pengkhotbah harus memikirkan bagaimana berita yang
disampaikan mampu memotivasi pendengar sehingga jemaat mau melakukan apa yang
diperoleh dari khotbah yang ia dengar. Prinsip ini membuat seorang pengkhotbah
untuk berdoa agar kuasa Roh Allah bekerja melalui khotbah yang ia sampaikan.
SYARAT-SYARAT SEBUAH KHOTBAH YANG BAIK
Di bawah
ini adalah Pendapat dari Dua Orang Ahli Homelitik:
Menurut J.
Gulleson
1.
Khotbah harus disampaikan dalam kuasa Roh Kudus Yoh 16:8;
2Ko 4:3-4
2.
Khotbah harus didasarkan pada seluruh Alkitab Kis 20:27
3.
Khotbah harus disampaikan dengan penyajian yang kuat Kis
2:38
4.
Khotbah harus dijadikan semenarik mungkin
5.
Khotbah harus ditujukan kepada kehendak pendengar Kis
2:38
6.
Khotbah harus ditambatkan dengan tugas untuk pendengar Rom
8:29; Gal 4:19
Menurut
Haddon W. Robinson
1.
Khotbah merupakan suatu komunikasi 2Ti 3:14; Kis 18:4;
19:8; 28:23
2.
Khotbah harus Alkitabiah 2Tim 4:2
3.
Khotbah merupakan suatu hasil dari penafsiran yang baik Kis
17:11
4.
Khotbah harus dibawakan dengan kuat kuasa Roh Kudus. 1Ko
2:3-5; 1Te 1:5
5.
Khotbah harus bersifat pribadi dan relevan sehingga dapat
diterapkan dan menyentuh kehidupan pendengar.
KHOTBAH YANG EFEKTIF
1.
SESUAI DENGAN ALKITAB
Berita yang disampaikan harus
bersumber dari Alkitab dengan keyakinan bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang
berotoritas dan sebagai jawaban terhadap semua permasa lahan dan kebingungan
manusia di dunia.
2.
BERITANYA JELAS
Satu pokok/tema yang dibahas,
kemudian dikembangkan/dijelaskan. Jangan buat khotbah yang membingungkan karena
terlalu banyak pokok bahasan sehingga menjadi susah untuk diingat. Struktur,
bahasa, pokok pikiran, suara harus jelas sehingga jemaat mengerti jelas apa
yang disampaikan.
3.
MENARIK
Gerakan tubuh: ada kerjasama dengan mata,
tangan, dan badan. Suara: tidak monoton dan membosankan. Ada contoh atau
ilustrasi atau analogi. Pendahuluan yang baik. Penutup yang sesuai.
4.
RELEVAN
Menyentuh kehidupan pendengar karena
itu perlu mengetahui apa yang dibutuhkan oleh pendengar.
5.
MENJIWAI
Ada penjiwaan dalam berkhotbah dan
memperhatikan kaidah-kaidah ilmu berkhotbah sehingga khotbah terlihat lebih
hidup.
DASAR SEORANG PENGKHOTBAH
1.
MEMILIKI HUBUNGAN PRIBADI DENGAN TUHANNYA
Seorang yang hendak menyampaikan
Firman Allah, seharusnya adalah orang yang sudah sungguh-sungguh mengenal
Tuhannya di dalam dan melalui Tuhan Yesus Kristus. Jika pengkhotbah tidak punya
hubungan yang benar dengan Allah maka yang disampaikan tidak lebih dari
retorika umum belaka.
2.
MENCINTAI ALKITAB
Seorang pengkhotbah adalah orang
yang mencintai Alkitab; suka membaca, menyelidiki, melakukan dan berusaha
melakukan apa yang didapat dari Alkitab. Hanya dengan cara ini seorang
pengkhotbah dapat mengerti sungguh berita Alkitab sehingga ia dapat berkhotbah
secara benar dan bersemangat.
3.
PRIBADI YANG MENJADI BERKAT
Pribadi seorang pengkhotbah
memainkan peranan yang penting dalam menentukan efektifitas khotbahnya.
Socrates pernah berkata, “Yang menentukan daripada pidato adalah selalu si
pembicara itu sendiri”. Kehidupan kerohaniannya, kehidupan bergerejanya,
kehidupan sosial kemasyarakatannya, integritas hidup dan pelayanannya, semuanya
turut mendukung apa yang hendak dikhotbahkan. Sebaiknya pengkhotbah memiliki
prinsip-prinsip di bawah ini dan melakukannya dengan pertolongan Tuhan
·
Filsafatnya : Alat Kemuliaan Tuhan
·
Kuasanya : Bergantung pada
Firman-Nya dan Roh Kudus
·
Karakternya : Bertumbuh di dalam Tuhan
4.
PENGUASAAN PRINSIP KOMUNIKASI
·
Pengkhotbah harus mengetahui apa yang ia bicarakan
·
Pengkhotbah harus mengetahui kepada siapa ia bicara
·
Pengkhotbah harus mengetahui bagaimana ia bicara
5.
MENGERTI PRINSIP-PRINSIP HERMENEUTIKA ATAU ILMU TAFSIR
ALKITAB
Seorang yang hendak belajar
berkhotbah sebaiknya adalah orang yang telah belajar ilmu tafsir Alkitab.
Pengkhotbah yang menafsirkan Alkitab dengan tidak memperhatikan kaidah-kaidah
penafsiran Alkitab adalah orang yang berbahaya. Mengapa? Sebabnya adalah karena
orang-orang yang mendengarkan khotbahnya akan menuruti, jika itu baik maka akan
baik, tetapi jika itu salah dan menyimpang, hal ini dapat menyesatkan.
Kebanyakan ajaran-ajaran sesat berkembang dari kesenangan menafsirkan Alkitab
menurut pengertiannya sendiri. Pengkhotbah harus bertanggung jawab di hadapan
Tuhan dan sesama, karena itu lebih baik jika ia mengerti prinsip-prisip dasar
penafsiran Alkitab.
YANG HARUS DIMILIKI OLEH PENGKHOTBAH
1.
KEBERANIAN
Seorang yang belajar berkhotbah
tentu dia akan merasa gentar walaupun dia sudah siap. Rasa takutnya tidak bisa
hilang, kadang-kadang lupa akan apa yang harusnya diucapkan di hadapan umum.
Oleh sebab itu ia harus melatih keberanian. Cara mengatasinya; Persiapan! Apa
yang harus dipersiapkan?
a. Pengetahuan
- Harus memilih hal-hal yang
dikuasai/ketahui
- Harus punya kepercayaan diri
- Bersyukur pada Tuhan memberikan
janji pada Alkitab, supaya jangan takut 2Tim 1:7.
2.
PENGETAHUAN
Iman kristiani tidak pernah
mengabaikan dan menganggap remeh pengetahuan. Alkitab justru mengajar agar
setiap orang Kristen untuk terus mengejar pengetahuan. Paulus, seorang yang
mempunyai pengetahuan yang cukup luas itu berkata, “Dan inilah doaku, semoga
kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian,
sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat
menjelang hari Kristus” (Fil 1:9-10); Petrus menuliskan, “Justru karena
itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu
kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan (2Pe 1:5). Ada beberapa
macam pengetahuan yang hendaknya dimiliki oleh seorang pengkhotbah yaitu;
a. Pengetahuan Alkitab yang memadai
Konsekuensi logis dari orang yang rindu memberitakan firman Allah adalah bahwa ia mencintai Alkitab dan karena itu ia menyelidiki dan merenungkannya. Pengetahuan ini penting dan karena itu seorang yang berani berkhotbah harus bertanggung jawab kepada Tuhan dan pendengarnya bahwa ia sungguh memahami Firman Allah yang hendak disampaikannya.
Konsekuensi logis dari orang yang rindu memberitakan firman Allah adalah bahwa ia mencintai Alkitab dan karena itu ia menyelidiki dan merenungkannya. Pengetahuan ini penting dan karena itu seorang yang berani berkhotbah harus bertanggung jawab kepada Tuhan dan pendengarnya bahwa ia sungguh memahami Firman Allah yang hendak disampaikannya.
b.
Pengetahuan Dasar
Pengkhotbah sebaiknya memiliki pengetahuan dasar yang baik. Pengetahuan dasar yang dimaksud adalah pengetahuan tentang kebudayaan di mana khotbah akan disampaikan, calon pendengar dengan latar belakangnya (pendidikan, pekerjaan, kebudayaan, etnis), dan sebagainya. Tapi jangan terlalu bersandar pada pengetahuan. Kita harus punya bahasa yang baik untuk dapat berkhotbah dengan baik yang disesuaikan dengan pendengarnya. Adalah baik seorang mencari informasi tentang calon pendengarnya terlebih dahulu sebelum ia sendiri berkhotbah.
Pengkhotbah sebaiknya memiliki pengetahuan dasar yang baik. Pengetahuan dasar yang dimaksud adalah pengetahuan tentang kebudayaan di mana khotbah akan disampaikan, calon pendengar dengan latar belakangnya (pendidikan, pekerjaan, kebudayaan, etnis), dan sebagainya. Tapi jangan terlalu bersandar pada pengetahuan. Kita harus punya bahasa yang baik untuk dapat berkhotbah dengan baik yang disesuaikan dengan pendengarnya. Adalah baik seorang mencari informasi tentang calon pendengarnya terlebih dahulu sebelum ia sendiri berkhotbah.
c.
Pengetahuan Ilmiah
Semua benda/makhluk adalah ciptaan Tuhan, kita boleh mengambilnya contoh sebagai kebenaran Tuhan. Semua kebenaran yang ada pada setiap ilmu pengetahuan bisa digunakan oleh setiap pengkhotbah untuk memberitakan kebenaran Firman Allah.
Semua benda/makhluk adalah ciptaan Tuhan, kita boleh mengambilnya contoh sebagai kebenaran Tuhan. Semua kebenaran yang ada pada setiap ilmu pengetahuan bisa digunakan oleh setiap pengkhotbah untuk memberitakan kebenaran Firman Allah.
d.
Pengetahuan Umum
Ini penting untuk dimiliki pengkhotbah. Seorang pengkhotbah yang baik memiliki pengetahuan umum yang memadai. Dengan pengetahuan tersebut ia dapat menganalisa apa yang sedang terjadi dan kemudian memberi jawab berdasarkan kebenaran Alkitab.
Ini penting untuk dimiliki pengkhotbah. Seorang pengkhotbah yang baik memiliki pengetahuan umum yang memadai. Dengan pengetahuan tersebut ia dapat menganalisa apa yang sedang terjadi dan kemudian memberi jawab berdasarkan kebenaran Alkitab.
e.
Pengetahuan Khusus
f.
Pengkhotbah harus punya spesifikasi. Ini sebuah usulan untuk
menghadapi era globalisasi. Memang seorang pengkhotbah bisa berkhotbah tentang
apa saja, tetapi jika ia belajar untuk memiliki spesialisasi tertentu akan jauh
lebih baik. Spesialisasi menolong dia untuk dapat berkhotbah pada bidang
tersebut dengan dalam, luas dan jitu sehingga khotbah menjadi lebih baik dan
efektif.
3. B A K A
T
Fasih lidah adalah satu karunia.
Setiap orang percaya bisa memintanya dari Tuhan. Seorang Penginjil
membutuhkannya agar dapat berkhotbah dengan lebih leluasa. Ada tiga hal yang
harus diperhatikan:
a.
Berbahasa dengan lancar, pendengar cepat mengerti
Lancar selain karunia, juga bisa dilatih. Ada seorang mahasiswa sekolah Alkitab yang bicaranya agak tersendat-sendat seperti mengucapkan “a a a apa itu”. Ia malu ditertawakan terus oleh teman sekelas terutama dalam mata kuliah belajar berkhotbah. Ia memohon kepada Tuhan dalam doa yang sungguh, ia terus menerus melatih diri, dan ia meminta teman-teman dekatnya untuk terus mengingatkan dia jika ia mulai bicara tersendat- sendat. Memang memakan waktu yang tidak sedikit, perlu ketekunan, namun hasilnya ia kemudian dapat berkhotbah dan berbicara tanpa tersendat- sendat (gaguk).
Lancar selain karunia, juga bisa dilatih. Ada seorang mahasiswa sekolah Alkitab yang bicaranya agak tersendat-sendat seperti mengucapkan “a a a apa itu”. Ia malu ditertawakan terus oleh teman sekelas terutama dalam mata kuliah belajar berkhotbah. Ia memohon kepada Tuhan dalam doa yang sungguh, ia terus menerus melatih diri, dan ia meminta teman-teman dekatnya untuk terus mengingatkan dia jika ia mulai bicara tersendat- sendat. Memang memakan waktu yang tidak sedikit, perlu ketekunan, namun hasilnya ia kemudian dapat berkhotbah dan berbicara tanpa tersendat- sendat (gaguk).
b.
Bakat berdebat
Mengetahui dengan jelas pengetahuan, lalu mengutarakannya dengan teratur supaya pendengar memperhatikan pembicaraan kita. Paulus memberitahukan kepada kita supaya taat kepada kebenaran. Bagaimana supaya orang taat kepada kebenaran? Itulah sebabnya kita perlu bakat berdebat. (Rom 1:5)
Mengetahui dengan jelas pengetahuan, lalu mengutarakannya dengan teratur supaya pendengar memperhatikan pembicaraan kita. Paulus memberitahukan kepada kita supaya taat kepada kebenaran. Bagaimana supaya orang taat kepada kebenaran? Itulah sebabnya kita perlu bakat berdebat. (Rom 1:5)
4.
INSPIRASI
Alkitab memuat banyak kebenaran
untuk diberitakan. Perlu inspirasi untuk menyampaikannya supaya pendengar lebih
jelas, menerima dan percaya.
5.
KETRAMPILAN
Berkhotbah adalah ketrampilan.
Ketrampilan untuk menunjang khotbah sangat penting. Oleh karena itu untuk
belajar berkhotbah harus juga memperhatikan latihan-latihan seperti;
a. Ketrampilan Berbicara
Ketrampilan ini merupakan hal yang mutlak diperlukan oleh
seorang pengkhotbah. Jika seorang ingin belajar berkhotbah, maka ia tidak boleh
putus asa dalam memiliki ketrampilan berbicara. Ketrampilan dapat diperoleh
dengan memintanya kepada Tuhan lalu kemudian melatih diri (ora et labora). Musa
pada waktu dipanggil Allah, ia berkata, “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara,
dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab
aku berat mulut dan berat lidah. Tetapi Tuhan berfirman kepadanya: Siapakah
yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat
orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni Tuhan? (Kel 4:10-11). Tuhan
memanggil orang untuk memberitakan Firman-Nya dan karena itu sebagai
konsekuensinya, Ia pun akan memperlengkapi orang tersebut. Allah dapat
memberikan karunia khusus untuk berbicara, namun dalam banyak hal, Ia juga
senang jika manusia mempersembahkan yang terbaik bagi Allah dengan melatih diri
untuk memperoleh ketrampilan berbicara dan Ia memberkati dan memperlengkapinya.
Ketrampilan yang harus dimiliki oleh seorang pengkhotbah meliputi segi- segi
teknik yang harus dikuasai oleh seorang pengkhotbah, sehingga dapat
menghasilkan bunyi atau suara yang baik. Ingatlah prinsip ini: “Setiap orang
bisa berbicara tetapi seorang pengkhotbah harus berbicara lebih baik dan lebih
indah. Segi-segi tersebut menyangkut :
1. Volume suara
Volume
suara harus wajar.
Volume
suara yang terlalu kecil atau lemah menyatakan rasa malu atau takut. Volume
suara yang terlalu keras menyatakan rasa tegang, nervous dan gelisah. Karena
itu setiap kali mulai berbicara, adalah penting untuk mendengar suara sendiri,
apakah suaranya cukup, perlu dipertahankan atau ditingkatkan atau direndahkan
sesuai kebutuhan disertai kontrol terus-menerus agar tetap stabil.
2.
Sifat suara
Setiap orang mempunyai sifat
suara/warna suara yang khas. Jadi tidak perlu menirukan orang lain.
3.
Irama suara
Irama suara harus bervariasi agar
lebih enak didengar, lebih mudah dipahami dan tidak membosankan. Irama suara
meliputi: kapan harus bicara keras dan kapan harus bicara pelan, kapan dengan
kalimat panjang dan kapan dengan kalimat pendek, kapan cepat dan kapan lambat,
kapan turun dan kapan naik, kapan harus pause/diam sejenak dan kapan dipenggal,
dan sebagainya.
4.
Panjang pendeknya kalimat
Panjang pendeknya kalimat harus
melihat kebutuhan. Hal ini berkaitan dengan tempo bicara. Bagi orang yang
cenderung bicara lambat, lebih baik menggunakan kalimat yang pendek, singkat
dan ekspresif sehingga bicara terasa lebih cepat. Bagi orang yang cenderung
bicara cepat, sebaiknya menggunakan kalimat yang panjang sehingga pendengar
dapat mengikuti dengan baik dan memahami maksud kalimat tersebut.
5.
Pause dan pemenggalan kalimat
Pause adalah perhentian sejenak
(jeda) yang menjembatani peralihan dari fase yang satu ke fase yang lain. Pause
dan pemenggalan kalimat yang benar, penting sekali untuk menekankan
gagasan-gagasan yang perlu.
b. Ketrampilan
Olah Vokal
Pengaturan pernafasan dalam
berbicara sangat penting. Karena itu perlu latihan pernafasan agar mampu
bernafas lebih panjang dan kemudian mampu berbicara dengan lebih baik.
c.
Ketrampilan Olah Tubuh
Untuk memperoleh sikap tubuh yang
baik dalam penampilan tidaklah mudah. Keseluruhan sikap tubuh seperti: tatapan
mata, ekspresi wajah dan gerakan-gerakan tubuh yang lain merupakan suatu bahasa
tanpa kata. Oleh sebab itu, apabila setiap gerakan digabungkan dengan kata-kata
secara keseluruhan akan sangat bermanfaat bagi pendengar. Namun demikian harus
sesuai dengan berita yang dibawakan. Hal-hal yang perlu diperhatikan
- Pandangan Mata
Pandanglah semua orang secara seimbang, sehingga interaksi berjalan dengan hangat dan baik. Hindarilah tatapan liar, tatapan yang hanya terfokus pada satu arah, tatapan ke atas, atau muka menunduk. Pandanglah semua orang secara merata. Apabila ada orang terlihat, atau sedang berjalan di luar jendela, jangan sekali-sekali kita meliriknya, karena akan mengganggu konsentrasi baik bagi pengkhotbah maupun bagi pendengar. - Ekspresi Wajah Ekspresi wajah (mimik) sangat
dibutuhkan untuk membahasakan maksud dari kata-kata khotbah yang
disampaikan. Jika ingin membawa suasana sukacita, bersukacitalah.
Sebaliknya jika ingin menunjukkan kesedihan tunjukkanlah muka yang sedih
atau prihatin. Misalnya, percuma jika jemaat diajak bersukacita padahal
muka pengkhotbah sedang cemberut.
Hindarilah mimik yang tegang dan dingin,
tetapi jangan mengobral tawa dan sebagainya yang bisa menimbulkan kesan
murahan. (Band. 2Tim 1:7).
BEBERAPA HAL BAGI PENGKHOTBAH UNTUK MENINGKATKAN KHOTBAHNYA
- Banyak membaca khotbah-khotbah
orang-orang tersohor.
- Memperhatikan cara-cara mereka
menyelidiki, menyampaikan, struktur, bahasa dll. Setelah itu perhatikan
kelebihan dan kekurangan mereka.
- Banyak membaca dan mendengar
riwayat orang-orang terkenal, bagaimana cara mereka meningkatkan kemampuan
mereka dan sikap mereka ketika berkhotbah dan setelah berkhotbah.
- Banyak membaca buku psikologi
Kristen dan psikologi pada umumnya yang dipandang dari sudut iman Kristen.
Hal ini akan menolong untuk mengetahui pergumulan manusia dan karakter
serta kebutuhan manusia. Pengetahuan ini akan menolong pengkhotbah untuk
dapat berkhotbah yang menjawab kebutuhan pendengar.
- Mintalah seorang teman untuk
memberitahukan kelemahan kita. Tidak ada orang yang sempurna karena itu
evaluasi sangatlah penting peranannya.
- Bersyukurlah karena di dalam
Alkitab banyak sekali ajaran dan contoh kebenaran. Karena itu mintalah
pada Tuhan untuk mempunyai hati yang tidak cepat puas setelah
menyelesaikan satu penggalian/khotbah yang baik. (Kel 4:10-11)
- Catatlah peristiwa-peristiwa
yang menarik dan mengesankan, apakah itu peristiwa yang lucu atau yang
meyedihkan atau yang mendatangkan semangat. Catatlah kata-kata yang
menarik yang mungkin kita temukan. Semua catatan ini akan sangat membantu
kita dalam mempersiapkan khotbah.
- Dengarkanlah kaset-kaset
khotbah dari berbagai pengkhotbah (jika berbesar hati, juga dari berbagai
aliran), kemudian evaluasilah. Semua ini akan memperkaya metode khotbah
kita.
- Harus diingat, berkhotbah
adalah pekerjaan yang Tuhan berikan pada seorang hamba Tuhan (pengkhotbah)
sepanjang umur, sehingga harus memacu diri untuk selalu meningkatkan mutu
khotbah (Inovatif).
BAHAYA-BAHAYA YANG MENGANCAM PENGKHOTBAH
Pengkhotbah
harus memperhatikan beberapa Pokok berikut ini. (band. 1Ti 4:12-16; 1Ko
9:27)
1.
TELADAN
Harus jadi teladan bagi orang lain
Tanpa memiliki keteladanan yang
baik, jemaat akan mengalami kesulitan untuk dapat menerima berita yang
disampaikan oleh pengkhotbah. Seorang pengkhotbah yang tidak bisa mengontrol
emosinya mungkin dapat berkhotbah dengan baik, namun sikapnya itu akan menghalangi
jemaat untuk dapat menerimanya dengan baik. Akhirya, tidak akan sampai pada
tujuan khotbah itu sendiri.
2.
BERTEKUN DALAM MEMBACA ALKITAB
Tanpa pembacaan Alkitab yang
teratur, maka berita Firman Tuhan tidak menyatu dengan kehidupan pengkhotbah dan
akhirnya penyampaian Firman Tuhan hanya akan bersandar pada fasih lidah saja.
Penghayatan yang kuat akan Firman Tuhan akan menolong dalam menyampaikan
khotbah yang baik.
3.
MENUNTUT KEMAJUAN
Dunia yang berkembang dengan cepat
menuntut pengkhotbah juga harus dapat mengantisipasi perubahan tersebut agar ia
dapat menjawab kebutuhan pada zamannya. Seorang pengkhotbah dapat terjebak
kepada kemalasan untuk terus mengikuti perubahan yang sedang terjadi.
4.
AWAS SOAL UANG
Seorang yang memiliki motivasi yang
murni dapat berubah jika ia mulai terkenal. Seorang pengkhotbah yang “laris”
dapat terjebak ke dalam cinta akan uang atau khotbahnya dikomersilkan. Jika
melayani, ia akan mempertimbangkan apakah dapat menghasilkan keuntungan materi
atau tidak. Tidak heran banyak kasus bahwa pelayanan yang sudah di terima akan
dibatalkan apabila ada permintaan untuk berkhotbah di tempat yang mendatangkan
kehormatan lebih atau uang yang lebih. Hati-hatilah soal uang. Alkitab berkata,
“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah
beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan
berbagai-bagai duka” (1Tim 6:10).
5.
AWAS DALAM PENGAJARAN-PENGAJARAN DAN PEMBAWAAN DIRI
Alkitab
berkata, “… Awasilah ajaranmu… (1Tim 4:16):
a.
Harus hati-hati jangan sampai diri sendiri ditolak.
b. Jangan kebal terhadap Firman Tuhan
yang hendak di sampaikan, perhatikan kepekaan.
6. JANGAN SOMBONG
BAGI YANG FASIH LIDAH DAN DAPAT BERKHOTBAH DENGAN BAIK; Pengkhotbah hanyalah alat Tuhan.
7. MENGKHOTBAHKAN
SECARA BERULANG-ULANG KHOTBAH YANG SAMA, KARENA KEMALASAN DAN TIDAK PERSIAPAN.
PENGKHOTBAH DAN PERSIAPANNYA
1.
PERSIAPAN HATI DAN MENTAL
Semakin banyak berdoa dan bersaat
teduh dengan Tuhan menolong untuk semakin tenang, persiapan yang cukup menolong
untuk semakin mantap. Latihan-latihan menolong untuk semakin terampil sehingga
memiliki keberanian untuk tampil di depan umum.
2.
PERSIAPAN SARANA DAN PRASARANA
Siapkan beberapa terjemahan Alkitab,
lexikon, konkordansi, kamus Alkitab, tafsiran-tafsiran, koran, majalah,
artikel, baik cetak maupun elektronik (tv, internet, dll), ohp, alat ilustrasi,
dan lain sebagainya.
3.
PERSIAPAN BAHAN
Ketahuilah latar belakang, arti dan
makna Firman yang dipelajari, struktur, rangkaian kalimat, karakter orang-orang
yang ditulis, dan sebagainya.
4.
PERSIAPAN GAYA DAN PENAMPILAN
Perhatikan kerapian dan keserasian
pakaian dan rambut atau apapun asesoris yang dikenakan. Adalah baik untuk
bercermin dahulu sebelum berkhotbah untuk membenahi apa yang perlu. Kemudian
harus selalu memikirkan gaya yang cocok dengan situasi pendengar (jika perlu
dilatih; latihlah!). Semua itu untuk mendukung berita yang hendak disampaikan
dan untuk menambah kepercayaan diri untuk tampil di muka umum.
Ingatlah dua hal ini; Pengkhotbah yang kurang persiapan
akan terlihat di mimbar. Pengkhotbah yang hidupnya kurang dipersiapkan dengan
baik akan terlihat dalam perbuatannya. Plato berkata, “Jika seorang mau
mengenal kebenaran maka ia harus terus belajar, jika seorang mau mengabarkan
kebenaran maka ia harus belajar dua kali lipat.”
JENIS-JENIS
KHOTBAH
Pengelompokan yang paling umum adalah berdasarkan
proposisi dan bagian-bagian, yaitu : khotbah topical, tekstual, dan
ekspositori.
Khotbah Topikal
Defenisis Khotbah Topikal adalah : suatu
khotbah yang bagian-bagian utamanya diambil dari Topiknya atau Pokoknya,
lepas dari teks (braga, p. 5).
Maksud dari definisi ini adalah bahwa bagian-bagian
utama dari khotbah diambil dari topic atau pokok yang akan disampaikan dalam
khotbah. Jadi bagian-bagian utama di ambil dari ide-ide yang terbit dari topic
yang sedang akan dikhotbahkan.
Berkhotbah dengan bentuk topical secara implisit
memberikan makna kurang Alkitabiah, karena topic yang dikhotbahkan tidak langsung
dari nas, tetapi dapat diambil dari topic-topik yang sedang berkembang. Namun
dalam kasusu ini, braga menyarankan agar setiap pengkhotbah memulai dengan
suatu pokok pembicaraan dari topic yang Alkitabiah. Oleh karena itu,
bagian-bagian utama khotbah harus ditunjang oleh sebuah ayat firman Tuhan.
Contoh khotbah topikal tentang “penyembahan,” maka
topic tentang penyembahan-lah yang menentukan ide-ide selanjutnya dalam
pengembangan khotbah ini. Perhatikan contoh berikut ini:
Topik
: “IMAN”
NAS
Khotbah
: Lukas 17: 5 – 6.
Bagian-bagian Utama Khotbah :
1.
Perlunya Iman (Ibrani 11 : 6)
2.
Sumber Iman (Roma 10: 17)
3.
Kuasa Iman (Mark 11:20-24)
Pemilihan
Topik
Sebagai seorang pengkhotbah yang menyuarakan kebenaran
Allah dan Firman-Nya, sebaiknya carilah pimpinan-Nya. Pimpinan Tuhan dapat kita
menemukannya melalui berdoa, dan membaca firman Tuhan dengan teratur. Pemilihan
topic juga dapat ditentukan oleh tema yang diberikan kepada pengkhotbah sebagai
pokok khotbahnya, atau acara khusus dimana khotbah akan disampaikan. Bahkan
kondisi-kondisi di antara jemaat juga dapat menunjukkan keperluan atau
keinginan pemilihan topikyang tepat untuk situasi tersebut.
PRINSIP-PRINSIP
DASAR PERSIAPAN
“KERANGKA
KHOTBAH TOPIK”
1.
Bagian-bagian utama harus menurut
susunan logika dan atau kronologi.
2.
Bagian-bagian utama dapat berupas
analisa pokok itu.
3.
Bagian-bagian utama dapat
mengemukakan berbagai bukti mengenai pokok
itu.
4.
Bagian-bagian utama dapat merupakan
penguraian pokok dengan jalan
perbandingan atau pertentangan.
5.
Bagian-bagian utama dapat dinyatakan
dengan ungkapan Alkitab tertentu
yang diulangi sepanjang kerangka itu.
6.
Bagian-bagian utama dapat ditunjang
oleh kata atau ungkapan Alkitab yang
identik.
7.
Bagian-bagian utama juga dapat
terdiri atas penyelidikan kata dengan
menunjukkan aneka arti sebuah kata-kata
tertentu dalam Alkitab.
8.
Bagian-bagian utama seharusnya tidak
ditopang dengan ayat-ayat bukti yang
tafsirannya tidak sesuai dengan
konteksnya.
Keunggulan
Khotbah Topikal
1. Pengkhotbah
dapat mengembangkan berbagai aspek berita Alkitab secara bebas. Batasan
pembahasan luas. Materi yang dibahas dapat ditambahkan atau dikurangi atas
dasar pertimbangan waktu dan isi khotbah.
2. Sesuai
dengan kebutuhan yang nyata, teristimewa kebutuhan jemaat atas suatu masalah.
Melalui khotbah ini, pengkhotbah memberikan solusi yang Alkitabiah untuk
memecahkan masalah tersebut.
Kelemahan
Khotbah Topikal
1. Cenderung
untuk menggantikan kebenaran Allah dengan pemikiran manusia. Bahkan ada suatu
bahaya lain, yaitu kecenderungan “keduniawian,” sehingga penyampaian
bersifat pidato, dan bukan khotbah.
2. Kebiasaan
dalam penggunaan khotbah ini dapat menimbulkan bias. Contoh : apabila
pengkhotbah ahli dalam bidang kemasyarakatan, pengkhotbah cenderung akan
membahas masalah masyarakat.
3. Pengkhotbah
tidap perlu untuk meneliti konteks dan penafsiran ayat, mungkin juga tidak
meneliti konteks latar belakang historisnya, dan lain sebaginya yang
berhubungan dengan teks.
4. Satu krisis
yang lebih penting lagi, pengkhotbah hanya memperalat Alkitab dan bukan
membahas Alkitab. Menggunakan sebagai bahan pendukung pandangan pribadi
pengkhotbah. Apabila tidak berhati-hati, akan cenderung salah langkah atau
bersifat ekstrem.
Khotbah
Tekstual.
Definisi Khotbah
Tekstual adalah: khotbah yanhg bagian-bagian utamanya diperoleh
dari suatu teks yang terdiri atas suatu bagian Alkitab yang pendek. Setiap
bagian ini dipakai sebagai garis saran dan teks memberikan tema khotbah itu.
Dari
definisi ini, dapat dijelaskan sbb:
1.
Kerangka utama dari khotbah tetap
berada dalam batas-batas teks tersebut.
2.
Teks dapat terdiri dari hanya satu
ayat, atau seluruh ayat, dan dua atau tiga ayat.
3.
Bagian “utama” yang diambil
dari teks “dipakai sebagai suatu garis saran.” Artinya
bahwa bagian-bagian utama itu menyarankan hal-hal yang akan dibicarakan dalam
khotbah.
4.
Karena pada suatu teks terkadang
terdapat banyak kebenaran, maka kebenaran-kebenaran itu dapat dipakai untuk
menguraikan pikiran-pikiran yang terdapat dalam kerangka khotbah.
5.
Bagian-bagian tambahan dapt berasal
dari teks tersebut, dan dapat juga diambil dari bagian-bagian lain dari
Alkitab.
6.
Dalam khotbah tekstual, proses kerja
dimulai dari Teks, dan ide utama khotbah di dasarkan pada teks.
Contoh
Khotbah Tekstual :
Teks
Sumber “Ezra 7: 10 : “Sebab Ezra telah bertekat untuk meneliti taurat
Tuhan dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang
Israel.”
Teks
tersebut menekankan pada satu kata “bertekat.” Kata ini dapat
diterjemahkan dengan “menetapkan hati.” Dengan demikian
kerangka dari khotbah tekstual dari teks ii dapat disusun sbb:
Thema : Ketetapan
Hati Ezra
1. Ketetapan
Hati Untuk Meneliti Firman Tuhan
a.
Di tengah-tengah Istana Kafir
b.
Dengan Cara Teliti
2. Ketetapan
Hati Untuk Mentaati Firman Allah
a.
Memberikan Ketaatan yang Rela
b.
Memberikan Ketaatan yang Sempurna
c.
Memberikan Ketaatan tanpa
Putus-putusnya.
3. Ketetapan
Hati UntukMengajar Firman Tuhan
a.
Dengan Kejelasan
b.
Kepada Umat Allah.
Prinsip-prinsip
Dasar Persiapan Kerangka Khotbah Tekstual
1. Kerangka
Tekstual berpusat pada suatu pikiran utama dalam teks dan bagian-bagian
utamanya harus diambil dari teks sumber, kemudian mengembangkan dan memperluas
tema yang satu itu.
2. Bagian-bagian
utama dapat terdiri atas lebenaran-kebenaran atau prinsip-prinsip yang
disarankan oleh teks.
3. Di dalam
satu teks mungkin saja terdapat lebih dari satu tema, atau pikiran yang
menonjol, tergantung dari sisi mana kita memandang teks tersebut. Apabila
terdapat beberapa tema dala teks, kembangkan satu pokok saja menjadi satu
kerangka khotbah.
4. bagian-bagian
utama harus disusun dalam urutan logika dan kronologi.
5. Kata-kata
dalam teks dapat menjadi bagian-bagian utama dari kerangka.
6. Konteks dari
teks harus diselidiki dengan seksama dan dihubungkan dengan teks.
7. bagian-bagian
utama dilandaskan perbandingan, persamaan-persamaan dan atau pertentangan dalam
teks.
8. Dua atau
tiga ayat yang diperoleh dari bagian-bagian Alkitab yang berbeda-beda dapaty
disatukan dan digarap seperti satu teks.
Keunggulan
Khotbah Tekstual
1. Ayat singkat
dan terfokus, sehingga mudah dalam persiapan khotbah. Cara ini sangat baik
untuk para pengkhotbah pemula.
2. Cara ini
akan mudah diikuti para pendengar, mudah dimengerti.
3. Dikhotbahkan
ayat per ayat, sehingga pembahasan terfokus pada konteks ayat.
Kelemahan
Khotbah Tekstual
1. Ada saatnya
pembagian bagian utama secara berurutan cenderung dipaksakan.
2. Ada saatnya
pengambilan satu ayat atau dua ayat Alkitab tanpa melihat konteksnya. Ini akan
menimkbulkan kesalah pahaman, bahkan juga dapat mengalih-tafsirkan kebenaran.
3. Jika cara
ini dipakai terus-menerus akan menimbulkan rasa bosan pendengar.
4. Ada saatnya
satu perikop ayat yang baik, namun sulit dijadikan khotbah tekstual.
Khotbah
Ekspositori
Definisi Khotbah Ekspositori adalah : suatu
khotbah dimana suatu bagian Alkitab yang pendek atau panjang di-artikan dalam
hubungan dengan satu tema atau pokok. Bagian terbesar materi khotbah diambil
langsung dari nas Alkitab tersebut dan kerangkanya terdiri dari serangkaian
ide-ide yang diuraikan secara bertahap dan berpangkal pada satu ide utama.
Berdasrkan definisi tersebut, khotbah Eskpositori
dapat dijelaskan sbb :
1. Khotbah
Ekspositori di-dasarkan pada suatu bagian Alkitab yang pendek atau panjang, dan
terfokus pada satu tema atau pokok.
2. Khotbah ini
secara khusus terdiri dari sejumlah ayat dan dari ayat-ayat itulah ditemukan
ide pokok khotbah.
3. Bagian-bagian
utama dan bagian-bagian tambahan dari khotbah adalah bersumber dari nas yang
akan diuraikan.
4. Khotbah
ekspositori bertujuan untuk menjelaskan arti / kebenaran yang terkandung dalam
nast sumber, sehingga kebenaran yang terdapat dalam nas tersebut menjadi jelas
dan terang, dalam hubungannya dengan situasi masa kini.
Haddon
W. Robinson mengemukakan bahwa khotbah ekspositori merupakan komunikasi atas
suatu konsep Alkitabiah yang diperoleh dan disampaikan melalui suatu studi histories,
gramatikal, dan kesusasteraan atau suatu perikop
dengan konteksnya, yang pertama-tama diterapkan oleh Roh Kudus kepada pribadi
pengkhotbah, dan kemudian kepada pendengarnya.
Perbendaan
Antara Khotbah Tekstual dengan Khotbah Ekspositori.
|
Khotbah
Tekstual
|
Khotbah
Ekspositori
|
|
Teks Alkitab yang pendek, biasanya satu atau dua
ayat, bahkan terkadang sebagian dari ayat
|
Teksnya mungkin pendek, atau panjang, dan dapat juga
mencakup seluruh pasal atau lebih dari itu.
|
|
Bagian-bagian utamanya diambil dari teks kitab,
sedangkan bagian-bagian tambahan diambil dari nas lain, di luar teks nas
dasar.
|
Bagian-bagian utama dan tambahan semuanya bersumber
pada teks kitab yang dijadikan dasar pemberitaan.
|
|
Uraian khotbah dijelaskan dapat didukung dengan
pernyataan kitab-kitab lainnya.
|
Uraian khotbah seluruhnya dijelaskan secara
terperinci tentang suatu bagian tertentu dari kitab dan nas Alkitab itu
terjalin dalam seluruh uraian.
|
|
Khotbah tekstual ini dapat digarap secara
ekspositori.
|
Contoh Khotbah Ekspositori :
Judul :
Pertarungan Iman yang Baik.
Pokok :
Unsur-unsur yang Berhubungan Dengan Perang Rohani Orang Percaya.
Nas Kitab : Efesus 6:10-18
1. Semangat
Juang Orang Kristen, ayat 10-14a
2. Harus
tinggi, ayat 10.
3. Harus tabah,
ayat 11-14a.
4. Perlengkapan
Orang Kristen, ayat 14-17.
a.
Harus bersifat defensif, ayat
14-17a.
b.
Harus bersifat ofensif, ayat 17b.
III. Kehidupan Doa orang Kristen, ayat 18.
1. Harus dengan
tekun, ayat 18a.
2. Harus
merupakan doa syafaat, 18b.
Susunan
Teknis Suatu Bagian Alkitab.
Mempelajari Alkitab memberi manfaat pada waktu
mempersiapkan suatu susunan teknis sebuah bagian Alkitab untuk menentukan
strukturnya. Untuk membuat suatu susunan teknis, kita harus
1. Menuliskan
pertanyaan-pertanyaan utama teks itu sedemikian rupa sehingga membuat teks itu
sangat berarti bagi kita.
2. Kita harus
membedakan antara induk kalimat dan anak kalimat dengan menulisnya agak masuk
ke kanan.
3. Rangkaian
kata-kata, ungkapan-ungkapan, atau anak kalimat harus ditempatkan sedemikian
rupa sehingga kelihatan hubungannya satu dengan yang lainnya.
4. Kita juga
harus mementingkan kata kerja utama, kata-kata atau ide yang penting, termasuk
kata-kata penghubung yang penting seperti : sekarang, untuk, dan, tetapi,
kemudian, dan oleh sebab itu (braga, p. 51).
LANGKAH DALAM PERSIAPAN NASKAH KHOTBAH
Bentuk Khotbah Ekspositori
Khotbah Ekspositori adalah bentuk khotbah yang mengupas nas
Alkitab berdasarkan konteksnya. Yang dimaksud konteks adalah nas sebelum atau
sesudah dari nas yang akan dikhotbahkan, atau latar belakang dari nas sampai
kitab tersebut. Berikut tujuh langkah dalam menyusun khotbah ekspositori:
Langkah I: Memilih Nas Khotbah
Sebelum persiapan membuat khotbah, yang sangat penting
adalah menentukan nas Alkitab yang akan dikhotbahkan. Memilih dan menentukan
nas yang tepat akan menjadi “menu” makanan rohani yang mudah dimasak dan lezat
untuk dihidangkan.
Cara memilih nas Alkitab:
- Dengan berdoa memohon pimpinan
Roh Kudus.
Hubungan pengkhotbah dengan Tuhan akan menemukan kepekaan kehendak-Nya. - Dengan menyelidiki nas yang
sudah memberkati.
Hubungan pengkhotbah dengan pengalaman akan menghidupkan pemberitaannya. - Dengan menyesuaikan kebutuhan
pendengar.
Hubungan pengkhotbah dengan sesama akan menjadikan khotbah mem-”bumi”. - Dengan mencari sesuai tema yang
diminta.
Hubungan pengkhotbah dengan perkembangan zaman khotbahnya akan akurat. - Dengan mempertimbangkan
kemampuan pengkhotbah.
Hubungan pengkhotbah dengan proses pembelajaran akan menjadi khotbah yang relevan. - Dengan satu kesatuan nas yang
logis dan praktis.
o Khotbah adalah mengomunikasikan
hubungan pengkhotbah dengan Alkitab.
o Perhatikan nas dalam konteks dekat
dan konteks jauh.
o Perhatikan latar belakang sejarah
kitab.
o Gunakan metode penafsiran induktif
bukan deduktif.
Hal yang perlu diwaspadai dalam memilih nas:
1. Jangan memilih hanya nas-nas yang
sudah terkenal.
2. Jangan hanya biasa dengan kitab
Perjanjian Baru atau Injil-injil, pelajarilah Perjanjian Lama.
3. Jangan memilih karena ada “pesan
sponsor” atau karena motif khusus.
4. Jangan memilih karena nas yang hanya
menjadi kesukaan pribadi.
5. Jangan menentukan nas hanya karena
pengalaman pribadi.
Contoh memilih nas khotbah
|
Nas
|
Alasan
memilih nas tersebut
|
|
Karena
nas ini sudah memberkati secara pribadi.
|
|
|
Karena
sesuai kebutuhan pendengar.
|
|
|
Karena
sesuai tema untuk khotbah akhir tahun.
|
|
|
Karena
terpanggil untuk menyampaikan.
|
|
|
Karena
tertark dengan biografi tokoh doa.
|
Latihan memilih nas khotbah
Pilihlah lima nas yang memiliki satu kesatuan logis (satu
kesatuan pikiran) dan praktis (bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari).
Berilah alasan mengapa nas tersebut dipilih.
Langkah II: Membuat Tema Khotbah
Setelah memilih nas, bacalah nas berulang-ulang kali, kemudian
ringkaslah nas tersebut menjadi satu kalimat. Kalimat hasil ringkasan nas ini
disebut tema khotbah. Satu nas bisa muncul menjadi beberapa tema, tetapi
pilihlah salah satu tema yang sangat dominan, di mana tema tersebut adalah
hasil dari ringkasan nas, dan tema tersebut akan menjelaskan nas.
Hal yang harus dicegah dalam memilih tema
1.
Artinya tidak jelas
2.
Aneh-aneh (misal: Di sini bingung di sana bingung)
3.
Tidak Sopan (misal: Orang Pincang)
4.
Bersifat menyerang dan atau menyindir seseorang
Sumber Tema dari
Alkitab
1.
Tokoh-tokoh Alkitab
2.
Hari Besar Gereja (Natal, Paskah, Pentakosta, dll)
3.
Konteks hidup sehari-hari (keluarga, bangsa, pemilu, krismon,
dll)
4.
Masalah-masalah etika (abortus, perselingkuhan, pajak, suap,
dll).
Contoh
·
Pasif-Dilahirkan Kembali
·
Aktif-Setia sampai Mati; Hanya Pandang Yesus; dll
·
Bersifat 5 w + H-Who, What, Where, When, Why, How
·
Tekstual-Matius 2:1-12 -Persembahan Orang Majus; 4
Macam Manusia (Herodes, imam, orang majus, orang Yahudi)
·
Pertanyaan-Siapakah Yesus Itu?; Apakah Merokok itu Dosa?
·
Bersifat Argumen-Hanya Satu Jalan
·
Perbandingan-Sombong dan Rendah Hati
·
Kalimat tegas-Hai Maut di mana Sengatmu!; Selamatkan Jiwa
yang Tersesat!; Engkau Harus Menyembah Tuhanmu!; dll.
Contoh membuat tema khotbah
|
Nas
|
Kemungkinan
tema khotbah yang bisa dipilih
|
|
Mukjizat
Itu Nyata
|
|
|
Berkat
yang Melimpah-melimpah
|
|
|
Menjadi
Orang yang Istimewa di Hadapan Tuhan
|
|
|
Menghadirkan
Yesus dalam Keluarga
|
|
|
Keluarga
yang Diberkati
|
|
|
Tuhan
Memberi yang Terbaik
|
|
|
Memanfaatkan
Waktu dengan Bijaksana
|
|
|
Rukun
itu Indah
|
|
|
Doa yang
Mengubah Keadaan
|
Latihan membuat tema khotbah
Pilihlah
tiga nas Alkitab, masing-masing nas buatlah tiga tema khotbah. Kemudian
pilihlah satu tema saja, dan berilah alasan mengapa tema tersebut dipilih.
Langkah III: Membuat Kalimat Peralihan
Kalimat
peralihan adalah sebuah kalimat yang akan menjembatani atau menjabarkan tema
khotbah ke dalam nas Alkitab. Dalam kalimat peralihan terdiri dari: tema
khotbah + kata bantu + kata kunci + kata tanya.
Memakai
kalimat peralihan harus mempersiapkan jawabannya dari kata kunci tersebut di
dalam nas. Jika kata kunci syarat-syarat, pastikanlah Ialam nas berisi
syarat-syarat. Jika kata kunci langkah-langkah, pastikanlah bahwa dalam nas ada
langkah-langkah. Kemudian pakailah kata tanya. Dan, pastikanlah jawabannya ada
di dalam nas.
Kata kunci selalu jamak, untuk diulang-ulang saat transisi
dari pokok besar satu ke pokok besar lainnya.
|
DAFTAR KATA KUNCI
|
||
|
Alasan-alasan
|
Kebenaran-kebenaran
|
Peraturan-peraturan
|
|
Bukti-bukti
|
Keputusan-keputusan
|
Prioritas-prioritas
|
|
Bahaya-bahaya
|
Keuntungan-keuntungan
|
Pelajaran-pelajaran
|
|
Berkat-berkat
|
Kekurangan-kekurangan
|
Peringatan-peringatan
|
|
Cara-cara
|
Kesan-kesan
|
Perintah-perintah
|
|
Ciri-ciri
|
Kebutuhan-kebutuhan
|
Syarat-syarat
|
|
Dosa-dosa
|
Kesalahan-kesalahan
|
Sikap-sikap
|
|
Faedah-faedah
|
Langkah-langkah
|
Tugas-tugas
|
|
Faktor-faktor
|
Masalah-masalah
|
Teguran-teguran
|
|
Janji-janji
|
Nasihat-nasihat
|
Unsur-unsur
|
|
Daftar kata kunci bisa ditambahkan sesuai kebutuhan
|
||
Dalam membuat kata tanya, pastikanlah Anda sudah memikirkan
jawabannya di dalam nas yang akan dikhotbahkan. Ada enam kata tanya. Dan, dalam
satu khotbah hanya menggunakan satu kata tanya. Contoh penggunaan kata tanya,
dan kaitannya dengan kata kunci.
|
Kata
Tanya
|
Jawaban
|
|
Apakah langkah-langkahnya?
|
Langkah-langkahnya:
1,2,3, dst.
|
|
Bagaimana
cara
menerapkan prinsip-prinsip?
|
Prinsip-prinsipnya:
1,2,3, dst.
|
|
Mengapa rukun itu indah?
|
Karena
berkat-berkat: 1,2,3, dst.
|
|
Siapakah yang bijaksana?
|
Yang
memiliki nilai-nilai: 1,2,3, dst.
|
|
Di
mana
Gembala menjaga domba-Nya?
|
Tempat-tempat:
1,2,3, dst.
|
|
Kapan Tuhan mengatur kita?
|
Dalam
waktu-waktu: 1,2,3, dst.
|
Latihan membuat kalimat peralihan
Pilihlah tiga nas, misalnya dari Lukas 5:1-11, Yohanes
2:1-11, dan Mazmur 90. Buatlah tema khotbah, dengan
kalimat peralihan. Dan juga persiapkan kata tanyanya.
Langkah IV: Membuat Pokok Besar
Pokok besar adalah ide-ide dari bagian-bagian nas yang akan
dibuat dalam bentuk ringkasan yang disesuaikan dengan tema khotbah dan kata kunci
(jamak). Pokok besar ini juga menjadi jawaban dari kata tanya dalam langkah 3.
Pokok
besar yang baik akan memperhatikan unsur-unsur:
1. Satu kata atau kalimat yang sejajar
sesuai kata kunci. Jika kata kuncinya perintah, pokok besarnya berisi
perintah-perintah. Jika kata kuncinya langkah, pokok besarnya berisi
langkah-langkah.
2. Satu kata atau kalimat yang mudah
dimengerti dan relevan.
3. Pilihlah yang unik (contoh: kesamaan
huruf, bunyi), mudah diingat, relevan.
4. Kreatif dan bersumber dari
bagian-bagian nas.
5. Setiap pokok besar harus dicantumkan
asal ide, atau kutipan ayat dari nas.
Ingat! Kata kunci harus jamak, harus diulang-ulang saat
transisi dari pokok besar satu ke pokok besar lainnya.
Contoh membuat pokok-pokok besar (1)
|
Nas
Alkitab
|
:
|
Nehemia
1
|
|
Tema
khotbah
|
:
|
Doa yang
Mengubah Keadaan
|
|
Kalimat
peralihan
|
:
|
Doa yang
mengubah keadaan dengan mengikuti langkah-langkah dalam Nehemia 1:1-11. Apa langkah-langkahnya?
|
- Doa dengan terbeban
“Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit” (Nehemia 1:4). - Doa dengan merendahkan diri
“Duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa” (Nehemia 1:4). Juga, “Dengan mengaku segala dosa yang kami orang Israel telah lakukan” (Nehemia 1:6). - Doa dengan berusaha
“‘Ya, Tuhan, berilah telinga kepada doa hamba-Mu ini dan kepada doa hamba-hamba-Mu yang rela takut akan nama-Mu, dan biarlah hamba-Mu berhasil hari ini dan mendapat belas kasihan dari orang ini.’ Ketika itu aku ini juru minuman raja” (Nehemia 1:11)
Contoh membuat pokok-pokok besar (2)
|
Nas
Alkitab
|
:
|
|
|
Tema
khotbah
|
:
|
Keluarga
yang Diberkati Tuhan
|
|
Kalimat
peralihan
|
:
|
Keluarga
yang diberkati dengan mengikuti langkah-langkah dalam Yohanes 2:1-11. Apa langkah-langkahnya?
|
- Mengundang Yesus
“Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu” (Yohanes 2:2). - Menaati firman Tuhan
“Apa yang dikatakan kepadamu, lakukanlah [taatilah] itu” (Yohanes 2:5). - Memanfaatkan potensi
“Di situ ada enam tempayan …” (Yohanes 2:6).
- Melangkah dengan iman
“Kata Yesus kepada mereka, ‘Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pernimpin pesta.’ Lalu mereka pun membawanya”
(Yohanes 2:8).
Latihan membuat pokok besar
Pilihlah dua nas, misalnya Lukas
5:1-11
dan Yohanes 2:1-11. Buatlah pokok-pokok besar. Buatlah
mulai dari langkah pertama sampai langkah keempat (tema, kalimat peralihan,
pokok besar).
Langkah V: Membuat Pokok Kecil
Maksud membuat pokok-pokok kecil adalah menjelaskan
pokok-pokok besar dengan dukungan nas dan uraian-uraian sesuai tema khotbah.
Pokok kecil biasanya terdiri empat bagian:
- Menjelaskan
Pokok kecil menjelaskan pokok besar dengan ide-ide nas yang didapat dari “kata”, “frasa”, atau “ayat”. Jika ada kata yang memerlukan arti atau definisi, harus dijelaskan menurut kamus atau Ensiklopedia. - Menguraikan
Pokok kecil menguraikan pokok besar dengan dukungan ayat terdekat, konteks terdekat. Bisa dipakai Buku Tafsiran Alkitab. - Menggambarkan (ilustrasi)
Pokok kecil menggambarkan pokok besar dalam bentuk nyata, riil. Dalam hal ini bisa dipakai ilustrasi (cara membuat ilustrasi akan dijelaskan lebih lanjut). - Menerapkan
Dalam pokok kecil harus diberi contoh penerapan yang bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan hares bersifat spesifik, praktis, riil, relevan.
Contoh membuat pokok kecil
|
Nas
Alkitab
|
:
|
|
|
Tema
khotbah
|
:
|
Doa yang
Mengubah Keadaan
|
|
Kalimat peralihan
|
:
|
Doa yang mengubah keadaan dengan mengikuti
langkah-langkah dalam Nehemia 1:1-11.
Apa langkah-langkahnya?
|
- Doa dengan terbeban
“Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit” (Nehemia 1:4). - Menjelaskan
Nehemia orang buangan yang terhormat menjadi juru minuman raja (1:11, 2:1). Ia mendengar dari Hanani (seorang dari Yehuda yang terluput dari penawanan), bahwa kondisi Yerusalem sangat menyedihkan. Orang-orang menderita, temboknya terbongkar, pintu-pintunya terbakar (1:3). Mendengar ini Nehemia “menangis … berkabung…” (1:4). Nehemia sangat “terbeban” atas penderitaan bangsanya, keruntuhan kota, bahkan rusaknya kota Yerusalem. - Menguraikan
Sebagai orang sukses, Nehemia bisa berpikir egois. Tetapi, Nehemia adalah orang yang peduli terhadap penderitaan umat Allah. Ia memikirkan masalah bangsanya sangat serius, sangat terbeban, sehingga kesedihannya terbaca dalam sikap dan raut mukanya oleh Raja Artahsasta (2:2). Nehemia terpanggil membangun Yerusalem, karena terbeban, karena terpanggil. Tanpa pamrih.
Nehemia mengungkapkan sikap terbeban dengan doa. Dan, pada saat ditanya oleh sang raja, apa keinginannya, Nehemia tidak langsung menjawab atau meminta kepada raja, tetapi kembali berdoa. “Lalu kata raja kepadaku: ‘Jadi, apa yang kauinginkan?’ Maka aku berdoa kepada Allah semesta langit” (Nehemia 2:4). - Menggambarkan atau ilustrasi
(Tidak perlu ilustrasi, karena kisah Nehemia yang terbeban sudah jelas.) - Menerapkan
Doa akan mengubah keadaan, jika kita memiliki sikap hati yang terbeban secara pribadi. Tanpa rasa terbeban, tdak akan ada doa yang serius. - Doa dengan merendahkan diri
Memukul dada, menyiram abu di atas kepala, berjalan dengan kaki telanjang, menarik dan menggunting rambut, menyakiti dada (Kejadian 37:29-34; 2 Samuel 13:19; Imamat 10:6.). Inilah cara merendahkan diri dengan berkabung. - Menguraikan
Doa permohonan Nehemia sungguh-sungguh digumuli dengan merendahkan diri di hadapan Tuhan. Ia berdoa “siang dan malam” (1:6). Nehemia tidak hanya berdoa secara pribadi. tetapi melibatkan orang-orang lain juga (1:11). Nehemia sebenarnya layak sombong, karena di negeri orang lain, ia bisa berprestasi. Namun, semua prestasi dan kejayaannya harus ditanggalkan tatkala ia berhadapan dengan Allah. Nehemia merendahkan diri. Dalam doanya, ia memohon pengampunan atas dosa-dosa, baik dosa secara pribadi maupun dosa bangsanya (1:6). - Menggambarkan atau ilustrasi
(Tidak perlu ilustrasi, karena kisah Nehemia dalam merendahkan diri sudah jelas.) - Menerapkan
Jauhkan kesombongan, tidak ada faedahnya menyalahkan siapa pun, tidak baik menyesali kegagalan dan masalah di sekitar kita. Marilah saatnya kita berdoa dengan merendahkan diri di hadapan Tuhan. - Doa dengan berusaha
“‘Ya, Tuhan, berilah telinga kepada doa hamba-Mu ini dan kepada doa hamba-hamba-Mu yang rela takut akan nama-Mu, dan biarlah hamba-Mu berhasil hari ini dan mendapat belas kasihan dari orang ini.’ Ketika itu aku ini juru minuman raja” (Nehemia 1:11). - Menjelaskan
Nehemia mengharapkan satu hal: berhasil. Untuk berhasil, diperlukan doa dan usaha. Dalam rangka berusaha, Nehemia menggunakan potensi dan strategi yang didukung doa. - Menguraikan
Berusaha memanfaatkan potensi:
“Ketika itu aku ini juru minuman raja” (Nehemia 1:11). Kedudukan, jabatan adalah sebuah potensi yang bisa digunakan untuk akses hubungan yang lebih luas.
Berusaha menggunakan strategi:
Setelah raja memberi kesempatan kepada Nehemia, ia memakai strategi memohon surat rekomendasi atau surat jalan agar bupati-bupati yang wilayahnya akan dilewati memperlancar tujuannya (2:7,8).
Berusaha dengan kerja keras:
Nehemia menghadapi banyak tantangan. Dari Sanbalat yang menolak Yerusalem dibangun kembali (2:10,19; 6:1-19). Nehemia mengandalkan doa (4:9). Dan, siap berperang (4:1-23). Inilah berdoa dengan berusaha. Akhirnya, pekerjaan selesai (6:15), dan seluruh cita-cita berhasil (7:1). - Menggambarkan atau ilustras (dijelaskan dalam lembaran tersendiri)
- Menerapkan
Untuk mengubah keadaan diperlukan doa dan usaha. Tuhan adalah sumber mukjizat, tetapi tidak berarti kita pasif. Kita harus berusaha sesuai dengan panggilan kita: usaha bekerja lebih keras, melayani lebih baik, mengampuni dengan tulus, mengasihi tanpa pamrih, dan lain sebagainya. Suatu tindakan keliru, bahkan mencobai Tuhan jika kita hanya berdoa tanpa mau berusaha.
Latihan membuat pokok kecil
Pilihlah dua nas, misalnya Lukas
5:1-11 dan Yohanes 2:1-11.
Buatlah pokok-pokok kecil. Buatlah mulai dari langkah pertama sampai langkah
kelima (tema, kalimat peralihan, pokok besar, pokok kecil).
ILUSTRASI
1.
ILUSTRASI ADALAH JENDELA KHOTBAH
Rumah
tanpa jendela bukanlah rumah yang baik dan ideal, apakah itu dari segi estetika
maupun dari segi kesehatan. Demikian juga dengan ilustrasi, ia adalah bagian
kecil dari sebuah khotbah, namun dapat membuat khotbah lebih indah dan menarik,
lebih mengesankan, bahkan dapat membuat khotbah lebih mengena kepada pendengar.
Bahan-bahan
Ilustrasi
Kisah dari
tokoh Alkitab, majalah, koran, tayangan televisi, alam sekitar, benda-benda
sekitar, biografi tokoh, kata-kata bijak, pengalaman riribadi, pengamatan,
data-data statistik, dramatisasi, riwayat lagu, karya sastra, karya seni, dan
lain-lain (ilustrasi khotbah sebaiknya bersifat ilmiah dengan mencantumkan data
atau sumbernya).
Cara mengoleksi ilustrasi:
Membuat
kliping dari potongan koran, majalah; Mengumpulkan berdasarkan: abjad atau
tema; Membuat filling card (memotong dalam ukuran amplop dibuat seperti
menyusun katalog); Mengumpulkan benda, alat peraga: tali, lilin, roti, dan
lain-lain.
2.
FUNGSI ILUSTRASI
- Membuat khotbah lebih jelas dan
mudah dimengerti.
- Membuat khotbah lebih indah dan
mengesankan.
- Membuat pesan khotbah lebih
mudah untuk diterapkan dan dilakukan.
- Menyatakan suatu contoh
kebenaran yang hidup.
- Sebagai penghubung antara ide
khotbah dan penerapan.
- Memberi saat “istirahat” supaya
pendengar merasa senang dan tetap segar.
7.
Ilustrasi untuk menjelaskan kebenaran pokok besar atau tema,
bukan sebaliknya.
8.
Ilustrasi untuk sarana menjelaskan pokok atau tema khotbah,
bukan tujuan khotbah.
9.
Ilustrasi sebaiknya bersifat riil atau ilmiah, bukan dongeng,
atau fiksi.
10.
Jangan sering menggunakan ilustrasi dari pengalaman pribadi.
cerita keluarga, untukmenghindari “motif negatif dan ekses pendengar”.
11.
Ilustrasi bersifat membangun, bukan pelecehan, diskriminasi,
kesombongan pribadi.
12.
Satu ilustrasi sebaiknya dipakai untuk menjelaskan hanya
satu kebenaran.
13.
Waspadalah! Jangan menggunakan ilustrasi yang menarik
perhatian, lucu, konyol, sensasional, menyita waktu, yang pada akhirnya akan
merusak alur logika atau struktur khotbah. Dan, tidak membantu menjelaskan nas.
Ilustrasi
bila disajikan dengan cara yang meyakinkan selalu menyegarkan.
3.
SIFAT ILUSTRASI YANG BAIK
- Jelas dan menarik.
- Singkat dan tdak menghabiskan
sebagian besar waktu khotbah.
- Tepat dengan isi dan atau
poin-poin khotbah.
- Harus selalu ingat bahwa
ilustrasi hanyalah “bumbu” khotbah.
(Yang utama adalah isi khotbah itu sendiri.)
Langkah VI: Membuat
Kesimpulan atau Penutup Khotbah
Kesimpulan atau penutup
khotbah adalah rangkuman dari seluruh khotbah yang telah disampaikan. Isi kesimpulan
meliputi: tema, kata kunci, dan pokok-pokok besar.
Saran dalam memberi
kesimpulan
- Kesimpulan bisa diisi dengan kutipan ayat emas,
ilustrasi singkat, tantangan, pujian.
- Jika sudah berada dalam tal-yap kesimpulan atau
penutup, jangan memasukkan ide barn yang akan membuat antiklimaks.
- Kalimat kesimpulan sebaiknya dikonsep sesingkat
mungkin, untuk menghindari sikap mengambang, seperti pesawat yang
berputar-putar tidak mampu mendarat.
Penutup
1.
Penutup menyiapkan pendengar untuk meresponi atau menanggapi
khotbah.
2.
Dari segi informatif, penutup menyimpulkan apa yang sudah
dikhotbahkan. Dari segi persuasif, penutup menantang pendengar untuk berpikir
dan melakukan.
3.
Penutup bisa menjadi bagian yang terpenting dalam khotbah,
sebab kata-kata terakhir biasanya mendatangkan kesan yang dalam.
4.
Rencanakan bagaimana menutup khotbah agar tidak terbang ke
mana-mana.
5.
Kesimpulan dan aplikasi dari apa yang dikhotbahkan.
6.
Tidak memberikan konsep baru.
7.
Ada kesinambungan dengan pendahuluan dan isi khotbah.
8.
Ada penerapan yang jitu, yang dapat dilakukan pendengar.
9.
Menjawab pergumulan pendengar.
10. Meminta komitmen pendengar.
HAL-HAL
YANG DAPAT DIPAKAI SEBAGAI PENUTUP
·
Pengulangan, terutama poin-poin yang ditekankan
·
kutipan
·
baca puisi
·
cerita/ilustrasi
·
nasihat/tantangan yang sungguh-sungguh
·
visualisasi (bagaimana kebenaran ini bekerja dalam kehidupan
nyata)
·
berdoa
·
saran apa yang harus ditempuh
·
pertanyaan retoris
·
tantangan
·
pernyataan-pernyataan yang mantap
HINDARILAH
HAL-HAL INI
·
Ketidaksinambungan dalam daya tarik.
·
Kesimpulan yang panjang dan bertele-tele.
·
Penutup yang mendadak.
·
Memberikan impresi bahwa kita mau menyimpulkan tapi
sebenarnya belum.
·
Monoton.
- Lawakan/humor.
- Jangan menyatakan pendapat
baru.
Jika sudah
berkata, “akhirnya/yang terakhir” biarlah itu benar-benar menjadi yang terakhir
dari khotbah.
Contoh membuat kesimpulan
khotbah (1)
|
Nas Alkitab
|
:
|
|
|
Tema khotbah
|
:
|
doa yang mengubah keadaan
|
Kesimpulan
Doa dapat mengubah keadaan,
sudah terbukti dalam kesaksian Nehemia. Ia berdoa dengan terbeban atas keadaan
bangsanya, disertai sikap merendahkan diri di hadapan Tuhan, dan berusaha
menggunakan potensi serta strategi secara maksimal. Pada akhirnya, segala
cita-citanya berhasil. Doa kita juga dapat mengubah keadaan.
Contoh membuat kesimpulan
khotbah (2)
|
Nas Alkitab
|
:
|
|
|
Tema khotbah
|
:
|
Keluarga yang diberkati Tuhan
|
Kesimpulan:
Tuhan memiliki perhatian
khusus bagi keluarga. Tuhan merindukan adanya pemulihan dalam keluarga.
Keluarga kita akan dipulihkan dan diberkati Tuhan, jika kita mengundang Tuhan
dalam keluarga kita, jika kita menaati firman-Nya, jika kita menyadari dan
menggunakan potensi kita, dan jika kita melangkah dengan iman bahwa kuasa-Nya
lebih besar dari segala masalah kita!
Penerapan
Membuat Khotbah
Menjadi Relevan
1.
Tujuan khotbah bukan sekedar membagi pengetahuan tetapi
kehidupan yang serupa dengan Yesus.
2.
Pengkhotbah harus membuat penerapan karena biasanya
pendengar tidak membuat penerapan bagi diri sendiri.
3.
Penerapan tidak harus dalam penutup khotbah tapi bisa di
sampaikan pada setiap akhir bagian khotbah.
Ada Dua
Aspek yang harus diperhatikan dalam Membuat Penerapan:
1.
Apa yang harus dilakukan
Pendengar seringkali harus diberitahu tentang apa yang harus dilakukan setelah mendengarkan khotbah. Seorang pengkhotbah jangan senang jika orang berkata khotbah tersebut baik (mungkin pikiran, perasaan mereka puas dan disegarkan), tanpa mereka tahu apa yang harus mereka lakukan. Alasan utama adalah karena khotbah harus sampai pada perubahan dan peneguhan sikap dari pendengarnya.
Pendengar seringkali harus diberitahu tentang apa yang harus dilakukan setelah mendengarkan khotbah. Seorang pengkhotbah jangan senang jika orang berkata khotbah tersebut baik (mungkin pikiran, perasaan mereka puas dan disegarkan), tanpa mereka tahu apa yang harus mereka lakukan. Alasan utama adalah karena khotbah harus sampai pada perubahan dan peneguhan sikap dari pendengarnya.
2.
Bagaimana melakukannya
Selain pendengar perlu diberitahu tentang apa yang harus dilakukan, mereka juga perlu diberitahu bagaimana mereka melakukannya. Misalnya mereka dikhotbahkan tentang pentingnya doa dan pembacaan Firman Allah. Kemudian mereka diberitahu bahwa respon yang tepat untuk itu adalah Saat Teduh. Jika hanya berhenti sampai di situ pendengar seringkali menjadi frustasi, sebab di sisi lain mereka ingin bersaat teduh, tapi di sisi lain mereka tidak tahu bagaimana melakukan saat teduh. Mereka perlu diberitahu berapa lama saat teduh, kapan menggunakan saat teduh, bagaimana melakukan saat teduh yang baik, dan sebagainya.
Selain pendengar perlu diberitahu tentang apa yang harus dilakukan, mereka juga perlu diberitahu bagaimana mereka melakukannya. Misalnya mereka dikhotbahkan tentang pentingnya doa dan pembacaan Firman Allah. Kemudian mereka diberitahu bahwa respon yang tepat untuk itu adalah Saat Teduh. Jika hanya berhenti sampai di situ pendengar seringkali menjadi frustasi, sebab di sisi lain mereka ingin bersaat teduh, tapi di sisi lain mereka tidak tahu bagaimana melakukan saat teduh. Mereka perlu diberitahu berapa lama saat teduh, kapan menggunakan saat teduh, bagaimana melakukan saat teduh yang baik, dan sebagainya.
Latihan membuat kesimpulan
Pilihlah dua nas, misalnya Lukas
5:1-11 dan Yohanes 2:1-11.
Buatlah dari langkah pertama sampai langkah kelima (tema, kalimat peralihan,
pokok besar, pokok kecil). Kemudian buatlah kesimpulan.
Langkah VII: Membuat
Pendahuluan Khotbah
Pendahuluan adalah cara memperkenalkan apa
yang akan dikhotbahkan. Sifat pendahuluan seharusnya: singkat, menarik, memberi
minat tuk mendengar, sederhana (seperti iklan, seperti etalase toko, yang
membuat orang tertarik).
Pendahuluan adalah jendela yang baik agar
orang dapat melihat ke dalam isi khotbah. Penutup membuat orang ingat apa yang
sudah didengarnya dan bagaimana bersikap sesuai dengan khotbah yang baru
didengarnya
Sekalipun pendahuluan dalam urutan kerangka
khotbah adalah urutan pertama, dalam langkah membuatnya adalah urutan terakhir,
sebab pendahuluan menjadi sarana memperkenalkan isi khotbah. Karena isi khotbah
harus dibuat lebih dahulu.
Pendahuluan harus singkat,
memiliki hubungan langsung dengan tema khotbah atau nas. Dan, memiliki hubungan
langsung dengan pendengar. Hindarilah sikap atau kesan kurang siap, tidak
percaya diri, kurang simpatik, kurang menguasai bahan. Atau, hindarilah sikap
yang berlebih-lebihan dengan banyak janji.
Pendahuluan
merupakan bagian yang mempengaruhi dalam khotbah. Pendahuluan menyiapkan
pendengar untuk mendengar. Jika gagal di pendahulan, khotbah sudah separuh
gagal. Tugas bagian pendahuluan khotbah pertama-tama ialah menciptakan
keserasian pemikiran antara pembicara dan pendengar, dan menghantar pendengar
masuk ke dalam masalah atau bahan yang akan dijelaskan.
Tujuan dari
Pendahuluan
1. Pendahuluan menarik perhatian
pendengar untuk berminat terhadap isi khotbah.
2. Pendahuluan mempersiapkan pendengar
untuk dapat menerima pesan khotbah itu sendiri. Karena itu lebih baik jika
menyentuh keperluan-keperluan manusia, membangkitkan motivasi dan semangat.
Tehnik Menjadikan Pendahuluan Efektif
2.
Merangsang Perhatian Pendengar
Pada
umumnya orang lebih suka berbicara daripada mendengarkan. Apabila tidak ada
pendahuluan yang baik dan menarik serta menantang biasanya pendengar sudah
bosan dahulu. Karena itu merangsang pendengar untuk mau mendengarkan khotbah
perlu dirancang secara baik. Rancanglah pendahuluan yang efektif dengan
ceritera lucu/humor, dengan ceritera yang menyentuh hati, dengan fakta-fakta
yang sedang terjadi, dengan pertanyaan- pertanyaan yang menantang pendengar
untuk mau tahu persoalan yang sedang dibicarakan, dengan pernyataan-pernyataan
yang argumentatif yang membuat pendengar berpikir, semua itu akan membangkitkan
keinginan pendengar untuk mengikuti khotbah lebih lanjut. Intinya, buatlah
pendahuluan yang merangsang akal pendengar, yang menyentuh perasaan pendengar,
yang membangkitkan kehendak pendengar. Pendahuluan khotbah harus menyebabkan
pendengar senang sehingga mereka suka mendengar khotbah selanjutnya.
3.
Memancing pemandangan pendengar
Untuk
membuat pendahuluan menarik bisa digunakan metode-metode yang dipandang agak
lain oleh pendengar, tapi tetap memperhatikan prinsip bahwa pendahuluan harus
menarik. Kita bisa menggunakan alat peraga atau penjelasan melalui layar ohp
sebagai pendahuluan. Waktu saya kuliah semester pertama di sekolah alkitab,
pada suatu kebaktian minggu, dosen kami membawa pot bunga yang setinggi lutut
dan sudah dicat sehingga menarik dan bagus. Ketika ia di mimbar, ia mengangkat
pot tersebut lalu dibantingkan di lantai, dan pot itupun pecah berantakan. Ia
berkata bahwa seperti pot yang sudah hancur tersebut demikianlah manusia yang
jatuh di dalam dosa. Keadaannya berantakan, tidak tertolong, rusak total. Pot
tersebut tidak bisa diperbaiki kembali kecuali jika pembuatnya melebur kembali
dan kemudian membentuk kembali. Manusia tidak mungkin menjadi baik dan indah
lagi jika ia tidak kembali ke tangan penciptanya. Cara ini sangat menarik.
Contoh lain, ada seorang pengkhotbah yang maju ke mimbar seolah-olah terpeleset
dan nampak jatuh kemudian ia bangun lagi sambil tersenyum (seolah-olah karena
memang ia sengaja) ketika menaiki anak-anak tangga menuju mimbar. Jemaat
tertawa dan sebagian prihatin. Lalu ia berkata, kita bisa terpeleset dan jatuh
tapi tidak harus tergeletak. Mari kita merenungkan Firman Tuhan dengan tema,
“Jatuh tapi tidak tergeletak”. Cara inipun menarik. Intinya, selingilah khotbah
kita dengan peristiwa- peristiwa yang tidak biasanya namun dalam batas
ketertiban. Atau gunakan alat peraga lainnya di mana perlu.
Sifat Pendahuluan yang Baik
1. Singkat
2. Jika pendahuluan singkat tetapi
berkesan, maka orang akan bersemangat, tetapi jika panjang dan bertele-tele
maka akan menciptakan kebosanan.
3. Jelas
4. Menarik (pikiran, perasaan,
kehendak)
5. Tidak terlalu lembut berbicara
6. Tidak minta maaf
7. Terlalu menyatakan apa yang akan
dibahas
8. Tidak memulai dengan
‘kalau’,’andaikan’.
Beberapa Petunjuk Untuk Memulai Khotbah
1. Berdoalah dalam hati dan mulailah
dengan tenang.
2. Pikirkanlah bahwa berita Firman
Tuhan yang akan disampaikan penting untuk didengarkan.
3. Mulailah berkata-kata dengan tidak
memandang naskah tetapi memandang pendengar.
4. Berusahalah untuk menarik perhatian
pendengar.
5. Bervariasilah dalam setiap memulai
khotbah.
6. Mulailah jika seluruh ruangan sudah
tenang.
Contoh membuat pendahuluan
khotbah (1):
Pendahuluan
Banyak masalah, yang ada di sekitar kita yang tidak mampu kita ubah baik melalui strategi, metode, kemampuan, maupun potensi kita. Bahkan, keberhasilan dan pengalaman masa lalu juga tidak bisa mengubah masalah masa kini, baik itu masalah ekonomi, keamanan, kesehatan, keluarga, dan lain-lain. Apakah ada peluang kita mengubah keadaan? Kita akan belajar dari firman Tuhan dengan tema khotbah: Doa yang Mengubah Keadaan. Bagaimana langkah-langkahnya?
Banyak masalah, yang ada di sekitar kita yang tidak mampu kita ubah baik melalui strategi, metode, kemampuan, maupun potensi kita. Bahkan, keberhasilan dan pengalaman masa lalu juga tidak bisa mengubah masalah masa kini, baik itu masalah ekonomi, keamanan, kesehatan, keluarga, dan lain-lain. Apakah ada peluang kita mengubah keadaan? Kita akan belajar dari firman Tuhan dengan tema khotbah: Doa yang Mengubah Keadaan. Bagaimana langkah-langkahnya?
|
Nas Alkitab
|
:
|
|
|
Tema khotbah
|
:
|
Doa Yang Mengubah Keadaan
|
Contoh membuat pendahuluan
khotbah (2):
Pendahuluan
Keluarga adalah lembaga Ilahi yang dibentuk oleh Allah. Kepedulian Yesus menghadiri pernikahan di Kana dengan melakukan mukjizat pertama-Nya, memberikan bukti bahwa Allah yang membentuk keluarga juga berkenan memberkati keluarga. Keluarga kita juga akan diberkati oleh Allah. Langkah-langkah apa saja yang perlu kita lakukan agar keluarga kita diberkati?
Keluarga adalah lembaga Ilahi yang dibentuk oleh Allah. Kepedulian Yesus menghadiri pernikahan di Kana dengan melakukan mukjizat pertama-Nya, memberikan bukti bahwa Allah yang membentuk keluarga juga berkenan memberkati keluarga. Keluarga kita juga akan diberkati oleh Allah. Langkah-langkah apa saja yang perlu kita lakukan agar keluarga kita diberkati?
|
Nas Alkitab
|
:
|
|
|
Tema khotbah
|
:
|
Keluarga Yang Diberkati Tuhan
|
Latihan membuat pendahuluan
khotbah:
Pilihlah dua nas, misalnya Lukas
5:1-11 dan Yohanes 2:1-11.
Setelah menyelesaikan langkah pertama sampai langkah keenam (tema, kalimat
peralihan, pokok besar, pokok kecil, penutup). Kemudian buatlah pendahuluan
khotbah.
Latihan membuat khotbah
ekspositori secara lengkap
Buatlah dua kerangka khotbah
secara lengkap, satu dari Perjanjian Lama dan satu dari Perjanjian Baru, dengan
menerapkan tujuh langkah membuat khotbah ekspositori. Setelah menyelesaikan
ketujuh langkah membuat khobtah ekspositori, untuk mempersiapkan teks khotbah,
bisa ditulis dalam bentuk garis besar, juga sangat baik ditulis dalam bentuk
naskah lengkap siap baca.
PERSIAPAN FISIK DAN PSIKIS
Di bawah ini akan dijelaskan beberapa anjuran
untuk mempersiapkan fisik dan psikis sebelum tampil untuk membawakan khotbah.
Anjuran ini dapat dipergunakan di mana perlu.
1.
Jika kita sudah berdoa dan menggumuli
khotbah kita di hadapan Tuhan, kita seharusnya yakin bahwa Tuhan mau menyertai
kita dalam berkhotbah.
2.
Jika kita sudah
mempersiapkan naskah khotbah secara maksimal dan mencoba menguasainya, maka
kita akan menjadi tenang untuk memulai berkhotbah. Setelah berdoa dan persiapan
yang baik, kita akan menjadi antusias untuk berkhotbah.
3.
Makanlah yang cukup sebelum
berkhotbah, supaya kita memiliki kekuatan yang memadai dalam berkhotbah. Tetapi
jangan makan kekenyangan karena akan membuat tubuh kita lemah dan akan sulit
konsentrasi.
4.
Jika kita diundang untuk
berkhotbah jam lima atau jam enam pagi (banyak gereja memiliki jam-jam ibadah
tersebut) makanlah sebuah kue dan minum air hangat atau teh manis hangat.
5.
Jika kita masih gugup
sewaktu akan mulai berkhotbah minumlah segelas air (coba pikirkan mengapa orang
kaget harus minum air putih terlebih dahulu). Jika hari tersebut kita
berkhotbah sampai lima kali, maka baik jika kita minum sedikit air manis (sirup
/teh) untuk membuat suara kita tidak gampang serak.
6.
Pergilah ke toilet sebelum
berkhotbah. Hal ini nampaknya remeh tetapi dapat mengganggu apabila di
tengah-tengah khotbah kita harus terdesak untuk buang air (baik kecil maupun
besar)
7.
Pergilah menghadap cermin
untuk memeriksa kembali penampilan kita secara utuh. Hal ini akan menolong kita
untuk bebas dalam berkhotbah. Misalnya kita sedang berkhotbah lalu ada kancing
baju kita yang terlepas, hal ini dapat mengganggu konsentrasi orang untuk
mendengarkan khotbah kita.
8.
Datanglah lebih awal dan
rilekslah. Seorang pengkhotbah yang datang agak terlambat biasanya akan gugup
sedikit. Kalau ia tidak gugup paling tidak sudah membuat calon pendengar merasa
was-was.
9.
Jika kita akan berkhotbah
beberapa kali dalam satu hari, ambillah kesempatan untuk istirahat dan tidak
disibukkan dengan pembicaraan dengan orang lain. Kita harus melatih diri untuk
tidak sungkan mengambil waktu istirahat. Semua ini agar khotbah tetap
disampaikan dengan semangat dan antusias dan dengan konsentrasi yang tinggi.
Jika kita berkhotbah sampai empat-lima kali, maka jika kita tidak beristirahat,
khotbah yang keempat dan kelima tersebut sudah sangat berkurang penyajiannya.

