Selasa, 07 April 2020

ILMU BERKHOTBAH (HOMELETIKA)


 


ILMU BERKHOTBAH (HOMILETIKA)
DASAR-DASAR HOMILETIKA
Pdt. Philip Nikanor Surbakti, M.Th

APA ITU HOMILETIKA?

Homiletika berasal dari kata Yunani “Homilia” yang mempunyai arti dasar; perundingan, penguraian atau khotbah. Homiletika dapat didefinisikan sebagai berikut; Ilmu Berkhotbah atau pelajaran berbicara di hadapan orang banyak supaya pokok yang disampaikan dapat disajikan dengan cara yang terang, nyata dan berkuasa. Tekanan dalam kata ini adalah bagaimana cara memberitakan pengajaran Kristen secara teratur, sistimatis dan sedap didengar agar pendengar dapat menerima dengan baik serta dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Definisi di atas mengandung dua indikasi yaitu; persiapan bahan khotbah, dan yang utama persiapan menyampaikan khotbah. Itu berarti homiletika adalah sebuah ilmu yang praktis yaitu mempelajari bagaimana cara memberitakan pengajaran Kristen termasuk syarat-syarat dalam mendidik seseorang menjadi seorang pemberita firman yang baik.

APA ITU KHOTBAH

1.                  Khotbah adalah ketrampilan komunikasi dari suatu konsep atau gagasan Alkitabiah yang dapat diambil melalui penafsiran yang benar dari ayat-ayat Alkitab (itu sebabnya pelajaran hermeneutika adalah syarat mutlak bagi orang yang mau belajar homiletika) dan diterapkan melalui kuasa Roh Kudus pada kehidupan pengkhotbah dan pendengar khotbah (Yakobus berkata bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati).
2.                  Khotbah adalah Firman Tuhan yang diterima, dirasakan dan dilakukan oleh diri sendiri kemudian diutarakan dengan tegas dan nyata, supaya menjadi kesaksian dan jalan keselamatan bagi orang lain.

KEDUDUKAN HOMILETIKA DALAM TEOLOGI

Secara umum teologi dibagi dalam 4 bagian besar, yaitu :
1.    TEOLOGI BIBLIKA  
Teologi ini bertugas menggali arti dan makna yang benar serta kebenaran- kebenaran yang ada di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sebagai pegangan iman. Ilmu yang termasuk di dalamnya antara lain; Introduksi PL dan PB, Eksposisi PL dan PB, Bahasa Ibrani dan Yunani, Hermeneutika-Eksegese (ilmu tafsir). Teologi PL dan PB.

2.    TEOLOGI SISTEMATIKA
Teologi ini bertugas menemukan, merumuskan dan mempertahankan dasar iman sambil menyelidiki cara dan pengalaman iman, dalam berpikir dan bertindak terhadap obyek yang bersifat dogmatis. Bidang-bidang yang termasuk antara lain: Teologi Proper, Doktrin Trinitas, Kristologi, Pneumatologi, Bibliologi, Eklesiologi, Eskatologi, Sinologi, Angelologi, Teologi Paulus, Teologi Calvin, dll.

3.    TEOLOGI HISTORIKA
Teologi ini bertugas mengikuti dan menyelidiki perkembangan pengajaran dan sejarahnya, gereja dan sejarahnya, misalnya: Sejarah Gereja Dunia, Sejarah Gereja Asia, Sejarah Gereja Indonesia, Sejarah Doktrin, dll.

4.    TEOLOGI PRAKTIKA
Teologi ini bertugas memikirkan dan melancarkan cara penyampaian iman dalam usaha pemberitaan agar relevan dan mengena. Pendeknya, teologi ini bertugas untuk memikirkan bagaimana ketiga teologi di atas dapat memaknai hidup manusia. Bidang-bidangnya antara lain; Homiletika, Kateketik, Evangelisasi, Misiologi, Pendidikan Kristen, Apologetika, Pertumbuhan Gereja, Manajemen Gereja, Kepemimpinan Kristen, Metode Pekabaran Injil, dll.
            Jadi jelas letak Homiletika atau ilmu berkhotbah adalah di bawah disiplin teologi praktika. Sering dalam diskusi yang terjadi di antara mahasiswa teologi ada anggapan menganggap rendah teologi praktika. Sesungguhnya teologi praktika punya peranan yang sama pentingnya dengan ketiga bidang teologi yang lain. Misalnya seorang yang punya banyak modal tidak mungkin dapat menghasilkan suatu barang jika tidak ada yang mengerjakannya. Jika ada yang mengerjakannya menjadi suatu barang tetapi tidak ada yang memasarkannya maka barang tersebut tidak berarti karena tidak akan menghasilkan keuntungan yang besar. Tanpa ilmu praktika, mungkin doktrin dan pengertian Alkitab sulit dimengerti dengan baik oleh orang lain. Saya berpendapat, ketiga bidang teologi tersebut sama pentingnya. Tanpa kehadiran yang satu maka yang lain akan terasa kurang.

DASAR TEOLOGIS KHOTBAH 

1.    KEYAKINAN AKAN ALLAH
Allah pencipta itu ada dan terus ada tetapi karena dosa manusia tidak dapat mengenal keberadaan Allah secara benar. Keberadaan Allah yang adalah terang, keberadaan Allah yang adalah kasih, keadilan dan kedaulatan Allah, pemeliharaan dan hukuman Allah, semua yang nyata jelas dalam Alkitab, harus diajarkan dan diberitakan melalui khotbah. Manusia perlu mengenal Allah. Allah berfirman, “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih daripada korban-korban bakaran” Hosea 6:6. Hanya dengan mengenal Allah manusia akan mengerti siapa dirinya dan bagaimana harus menjalankan hidup ini. Dengan kata lain pengenalan akan Allah akan membuat manusia bahagia.

2.    KEYAKINAN AKAN ALKITAB
Alkitab adalah Firman Allah dari Allah yang kekal. Allah masih dan terus akan berbicara melalui Firman-Nya (Alkitab) yang berkuasa untuk mengajar, untuk menyatakan dosa dan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran Allah (2TIM 3:16). Alkitab adalah terang dan hikmat bagi manusia. Dari Alkitab manusia dapat menemukan jalan keselamatan, dan menolong manusia untuk bertumbuh dalam kebenaran.

3.    KEYAKINAN BAHWA ALLAH BISA MEMAKAI MULUT MANUSIA UNTUK
       KEMULIAAN-NYA
Waktu Yesus akan meninggalkan para muridnya, Ia memberikan Amanat Agung, yaitu untuk menyaksikan pribadi dan karya-Nya. Itu berarti manusia dapat menjadi alat pemberitaan Firman Allah. Manusia harus mengenal Firman Allah dengan benar dan kemudian belajar untuk melakukannya baru dapat memberitakan Firman Allah dengan baik dan benar. Memang seorang dapat juga pengkhotbah memanipulasi ayat-ayat Alkitab dan menggunakannya untuk keuntungan pribadi, namun dari segi positif, Allah mau berkomunikasi kepada manusia lewat seorang pengkhotbah. Robinson berkata, “The pracher seeks to bring the message of definite units of God’s Word to this people” Namun perlu diingat bahwa pengkhotbah dapat salah berkhotbah tetapi Firman Allah tidak pernah salah.

4.    KEYAKINAN BAHWA SESUNGGUHNYA MANUSIA BUTUH FIRMAN
       TUHAN
Firman Tuhan menjawab semua kebutuhan manusia. Adapun kebutuhan manusia itu a
dalah:
a.      Kebutuhan akan Injil
Manusia perlu mendengar Injil yang olehnya manusia dapat diselamatkan, dilepaskan, dari segala penderitaan karena dosa. Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya. (Rom 1:16-17)
b.      Kebutuhan akan Ajaran
Manusia perlu mendapat ajaran yang sehat yang mengajarkan segala kebenaran Allah dalam Alkitab. Ajaran-ajaran tersebut memberi pengertian kepadanya akan hal hidupnya yang dapat diberkati Tuhan. (Maz 119:66, 130).
c.       Kebutuhan Etika
Manusia perlu mengetahui bagaimana ia dapat menjalankan hidupnya dalam hubungannya dengan sesamanya, baik dalam keluarganya, di antara umat Tuhan, maupun di tengah-tengah masyarakat pada umumnya agar ada ketentraman. (Maz 119:165)
d.      Kebutuhan untuk Melayani
Manusia perlu mengetahui bagaimana ia dapat menyatakan terima kasihnya kepada Tuhan dengan berpartisipasi dalam pelayanan. Dengan kasih Kristus dalam hatinya ia tidak dapat menjadi anggota tubuh Kristus yang pasif saja. Ia harus melayani. Alkitab berkata, “Karena kita ini buatan Allah diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan perbuatan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita ini hidup di dalamnya” (Efe 2:10) Sesungguhnya manusia diciptakan oleh Allah adalah juga untuk melayani Dia.

e.       Kebutuhan untuk Memuji dan Menyembah Tuhan
Pemazmur berkata, “Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, karena hukum-hukum-Mu yang adil” (Maz 119:164) Manusia perlu mencurahkan hatinya kepada Tuhan pencipta dan juruselamatnya. Ia perlu menyatakan kasihnya kepada Tuhan dengan memuji dan menyembah-Nya.

TUJUAN KHOTBAH

1.    MANUSIA MENGENAL ALLAH SECARA BENAR
Manusia perlu mengenal Allah dengan benar agar mengerti jalan kebenaran (Yoh 14:6); manusia perlu mengenal Allah yang penuh kasih agar manusia mengenal kasih sejati yang penuh perhatian, penghargaan, penghiburan, dari Yesus Kristus; manusia perlu mengenal keadilan dan hukuman Allah agar manusia bertobat dan berhati-hati hidup dalam dunia ini; dan lain sebagainya. A. W. Tozer berkata, “Kepastian bahwa Allah (karena pengenalan akan Allah) itu selalu berada di dekat kita, hadir di segala bagian dunia ciptaan-Nya, lebih dekat kepada kita daripada pikiran kita sendiri seharusnya memberikan kebahagiaan batin kepada kita…” Jadi khotbah bertujuan agar manusia mengenal Allah dan mengenal-Nya semakin hari semakin baik.
2.    MENERANGKAN YESUS KRISTUS DAN KARYA-NYA YANG SUDAH GENAP
       DAN SEMPURNA
Alkitab berkata, “Sesungguhnya barangsiapa mendengarkan perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari alam maut ke dalam hidup” (Yoh 5:24). Sebagaimana Yesus menginginkan agar para pengikut-Nya memberitakan Injil, maka melalui khotbah hendaknya pribadi dan karya Kristus yang merupakan inti berita Alkitab diterangkan dan dengan demikian manusia mengenal Yesus.
3.    MENGUBAH KEHIDUPAN (PERTOBATAN)
Seorang pengkhotbah sebaiknya juga mengharapkan agar Roh Kudus memakai khotbahnya, supaya orang berdosa mengalami peristiwa kelahiran baru di dalam Kristus dan didamaikan dengan Allah (Yoh 16:18).



4.    MENGUBAH ORANG MENJADI SEMAKIN DEWASA
Perubahan menuju kepada kedewasaan dalam iman yang dimaksud yaitu; dalam pengetahuan yang benar tentang Allah dan firman-Nya/doktrin (Efe 1:17), meneguhkan dan menimbulkan iman (Rom 10:17; Ibr 4:12), pertumbuhan karakter dan sifat, dan sebagainya (Mat 28:19-20; Gal 5:22-26)

5.    MENGHIBUR ORANG YANG GELISAH/KUATIR/MENDERITA
Jika seseorang diindoktrinasi secara benar dalam pengajaran Firman Allah maka ia menjadi cukup kuat dalam menghadapi pencobaan dan seperti Tuhan Yesus yang dicobai di padang gurun, Ia dapat berkata, “Ada tertulis” (Mat 4:4, 7, 10).
6.    SUPAYA ALKITAB DICINTAI SEBAGAI PEDOMAN HIDUP YANG UTAMA
Daud berkata, “Firman-Mu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” Maz 119:105. Alkitab adalah jawaban atas semua pergumulan, ketakutan dan kerinduan manusia.
Oleh karena tujuan yang demikian mulia dari suatu khotbah, maka sebaiknya khotbah disampaikan dengan memperhatikan tiga prinsip yaitu:
·       Pertama, Khotbah harus disampaikan dengan menarik. Jika khotbah yang bagus disampaikan tanpa memperhatikan prinsip ini maka akan ada banyak orang yang tidak dapat mengikuti khotbah tersebut dengan seksama.
·       Kedua, Khotbah harus disampaikan sejelas mungkin sehingga sebagian besar jemaat (syukur kalau bisa semua) dapat mengerti. Khotbah perlu disampaikan dengan suara yang jelas, kata-kata yang jelas, alur pikiran yang jelas dan terutama berita/pesan yang jelas.
·       Ketiga, Pengkhotbah harus memikirkan bagaimana berita yang disampaikan mampu memotivasi pendengar sehingga jemaat mau melakukan apa yang diperoleh dari khotbah yang ia dengar. Prinsip ini membuat seorang pengkhotbah untuk berdoa agar kuasa Roh Allah bekerja melalui khotbah yang ia sampaikan.


SYARAT-SYARAT SEBUAH KHOTBAH YANG BAIK
Di bawah ini adalah Pendapat dari Dua Orang Ahli Homelitik:
Menurut J. Gulleson
1.        Khotbah harus disampaikan dalam kuasa Roh Kudus Yoh 16:8; 2Ko 4:3-4
2.        Khotbah harus didasarkan pada seluruh Alkitab Kis 20:27
3.        Khotbah harus disampaikan dengan penyajian yang kuat Kis 2:38
4.        Khotbah harus dijadikan semenarik mungkin
5.        Khotbah harus ditujukan kepada kehendak pendengar Kis 2:38
6.        Khotbah harus ditambatkan dengan tugas untuk pendengar Rom 8:29; Gal 4:19

Menurut Haddon W. Robinson
1.        Khotbah merupakan suatu komunikasi 2Ti 3:14; Kis 18:4; 19:8; 28:23
2.        Khotbah harus Alkitabiah 2Tim 4:2
3.        Khotbah merupakan suatu hasil dari penafsiran yang baik Kis 17:11
4.        Khotbah harus dibawakan dengan kuat kuasa Roh Kudus. 1Ko 2:3-5; 1Te 1:5
5.        Khotbah harus bersifat pribadi dan relevan sehingga dapat diterapkan dan menyentuh kehidupan pendengar.

KHOTBAH YANG EFEKTIF

1.    SESUAI DENGAN ALKITAB
Berita yang disampaikan harus bersumber dari Alkitab dengan keyakinan bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang berotoritas dan sebagai jawaban terhadap semua permasa lahan dan kebingungan manusia di dunia.
2.    BERITANYA JELAS
Satu pokok/tema yang dibahas, kemudian dikembangkan/dijelaskan. Jangan buat khotbah yang membingungkan karena terlalu banyak pokok bahasan sehingga menjadi susah untuk diingat. Struktur, bahasa, pokok pikiran, suara harus jelas sehingga jemaat mengerti jelas apa yang disampaikan.
3.    MENARIK
Gerakan tubuh: ada kerjasama dengan mata, tangan, dan badan. Suara: tidak monoton dan membosankan. Ada contoh atau ilustrasi atau analogi. Pendahuluan yang baik. Penutup yang sesuai.
4.    RELEVAN
Menyentuh kehidupan pendengar karena itu perlu mengetahui apa yang dibutuhkan oleh pendengar.
5.    MENJIWAI
Ada penjiwaan dalam berkhotbah dan memperhatikan kaidah-kaidah ilmu berkhotbah sehingga khotbah terlihat lebih hidup.


DASAR SEORANG PENGKHOTBAH

1.    MEMILIKI HUBUNGAN PRIBADI DENGAN TUHANNYA
Seorang yang hendak menyampaikan Firman Allah, seharusnya adalah orang yang sudah sungguh-sungguh mengenal Tuhannya di dalam dan melalui Tuhan Yesus Kristus. Jika pengkhotbah tidak punya hubungan yang benar dengan Allah maka yang disampaikan tidak lebih dari retorika umum belaka.

2.    MENCINTAI ALKITAB
Seorang pengkhotbah adalah orang yang mencintai Alkitab; suka membaca, menyelidiki, melakukan dan berusaha melakukan apa yang didapat dari Alkitab. Hanya dengan cara ini seorang pengkhotbah dapat mengerti sungguh berita Alkitab sehingga ia dapat berkhotbah secara benar dan bersemangat.

3.    PRIBADI YANG MENJADI BERKAT
Pribadi seorang pengkhotbah memainkan peranan yang penting dalam menentukan efektifitas khotbahnya. Socrates pernah berkata, “Yang menentukan daripada pidato adalah selalu si pembicara itu sendiri”. Kehidupan kerohaniannya, kehidupan bergerejanya, kehidupan sosial kemasyarakatannya, integritas hidup dan pelayanannya, semuanya turut mendukung apa yang hendak dikhotbahkan. Sebaiknya pengkhotbah memiliki prinsip-prinsip di bawah ini dan melakukannya dengan pertolongan Tuhan
·       Filsafatnya    : Alat Kemuliaan Tuhan
·       Kuasanya      : Bergantung pada Firman-Nya dan Roh Kudus
·       Karakternya  : Bertumbuh di dalam Tuhan

4.    PENGUASAAN PRINSIP KOMUNIKASI
·       Pengkhotbah harus mengetahui apa yang ia bicarakan
·       Pengkhotbah harus mengetahui kepada siapa ia bicara
·       Pengkhotbah harus mengetahui bagaimana ia bicara

5.    MENGERTI PRINSIP-PRINSIP HERMENEUTIKA ATAU ILMU TAFSIR
      ALKITAB
Seorang yang hendak belajar berkhotbah sebaiknya adalah orang yang telah belajar ilmu tafsir Alkitab. Pengkhotbah yang menafsirkan Alkitab dengan tidak memperhatikan kaidah-kaidah penafsiran Alkitab adalah orang yang berbahaya. Mengapa? Sebabnya adalah karena orang-orang yang mendengarkan khotbahnya akan menuruti, jika itu baik maka akan baik, tetapi jika itu salah dan menyimpang, hal ini dapat menyesatkan. Kebanyakan ajaran-ajaran sesat berkembang dari kesenangan menafsirkan Alkitab menurut pengertiannya sendiri. Pengkhotbah harus bertanggung jawab di hadapan Tuhan dan sesama, karena itu lebih baik jika ia mengerti prinsip-prisip dasar penafsiran Alkitab.

YANG HARUS DIMILIKI OLEH PENGKHOTBAH

1.    KEBERANIAN
Seorang yang belajar berkhotbah tentu dia akan merasa gentar walaupun dia sudah siap. Rasa takutnya tidak bisa hilang, kadang-kadang lupa akan apa yang harusnya diucapkan di hadapan umum. Oleh sebab itu ia harus melatih keberanian. Cara mengatasinya; Persiapan! Apa yang harus dipersiapkan?
a.                 Pengetahuan
  1. Harus memilih hal-hal yang dikuasai/ketahui
  2. Harus punya kepercayaan diri
  3. Bersyukur pada Tuhan memberikan janji pada Alkitab, supaya jangan takut 2Tim 1:7.

2.    PENGETAHUAN
Iman kristiani tidak pernah mengabaikan dan menganggap remeh pengetahuan. Alkitab justru mengajar agar setiap orang Kristen untuk terus mengejar pengetahuan. Paulus, seorang yang mempunyai pengetahuan yang cukup luas itu berkata, “Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus” (Fil 1:9-10); Petrus menuliskan, “Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan (2Pe 1:5). Ada beberapa macam pengetahuan yang hendaknya dimiliki oleh seorang pengkhotbah yaitu;
a.       Pengetahuan Alkitab yang memadai
Konsekuensi logis dari orang yang rindu memberitakan firman Allah adalah bahwa ia mencintai Alkitab dan karena itu ia menyelidiki dan merenungkannya. Pengetahuan ini penting dan karena itu seorang yang berani berkhotbah harus bertanggung jawab kepada Tuhan dan pendengarnya bahwa ia sungguh memahami Firman Allah yang hendak disampaikannya.
b.     Pengetahuan Dasar
Pengkhotbah sebaiknya memiliki pengetahuan dasar yang baik. Pengetahuan dasar yang dimaksud adalah pengetahuan tentang kebudayaan di mana khotbah akan disampaikan, calon pendengar dengan latar belakangnya (pendidikan, pekerjaan, kebudayaan, etnis), dan sebagainya. Tapi jangan terlalu bersandar pada pengetahuan. Kita harus punya bahasa yang baik untuk dapat berkhotbah dengan baik yang disesuaikan dengan pendengarnya. Adalah baik seorang mencari informasi tentang calon pendengarnya terlebih dahulu sebelum ia sendiri berkhotbah.
c.      Pengetahuan Ilmiah
Semua benda/makhluk adalah ciptaan Tuhan, kita boleh mengambilnya contoh sebagai kebenaran Tuhan. Semua kebenaran yang ada pada setiap ilmu pengetahuan bisa digunakan oleh setiap pengkhotbah untuk memberitakan kebenaran Firman Allah.
d.     Pengetahuan Umum
Ini penting untuk dimiliki pengkhotbah. Seorang pengkhotbah yang baik memiliki pengetahuan umum yang memadai. Dengan pengetahuan tersebut ia dapat menganalisa apa yang sedang terjadi dan kemudian memberi jawab berdasarkan kebenaran Alkitab.
e.      Pengetahuan Khusus
f.      Pengkhotbah harus punya spesifikasi. Ini sebuah usulan untuk menghadapi era globalisasi. Memang seorang pengkhotbah bisa berkhotbah tentang apa saja, tetapi jika ia belajar untuk memiliki spesialisasi tertentu akan jauh lebih baik. Spesialisasi menolong dia untuk dapat berkhotbah pada bidang tersebut dengan dalam, luas dan jitu sehingga khotbah menjadi lebih baik dan efektif.

3. B A K A T
Fasih lidah adalah satu karunia. Setiap orang percaya bisa memintanya dari Tuhan. Seorang Penginjil membutuhkannya agar dapat berkhotbah dengan lebih leluasa. Ada tiga hal yang harus diperhatikan:
a.    Berbahasa dengan lancar, pendengar cepat mengerti
Lancar selain karunia, juga bisa dilatih. Ada seorang mahasiswa sekolah Alkitab yang bicaranya agak tersendat-sendat seperti mengucapkan “a a a apa itu”. Ia malu ditertawakan terus oleh teman sekelas terutama dalam mata kuliah belajar berkhotbah. Ia memohon kepada Tuhan dalam doa yang sungguh, ia terus menerus melatih diri, dan ia meminta teman-teman dekatnya untuk terus mengingatkan dia jika ia mulai bicara tersendat- sendat. Memang memakan waktu yang tidak sedikit, perlu ketekunan, namun hasilnya ia kemudian dapat berkhotbah dan berbicara tanpa tersendat- sendat (gaguk).
b.   Bakat berdebat
Mengetahui dengan jelas pengetahuan, lalu mengutarakannya dengan teratur supaya pendengar memperhatikan pembicaraan kita. Paulus memberitahukan kepada kita supaya taat kepada kebenaran. Bagaimana supaya orang taat kepada kebenaran? Itulah sebabnya kita perlu bakat berdebat. (Rom 1:5)

4. INSPIRASI
Alkitab memuat banyak kebenaran untuk diberitakan. Perlu inspirasi untuk menyampaikannya supaya pendengar lebih jelas, menerima dan percaya.

5. KETRAMPILAN
Berkhotbah adalah ketrampilan. Ketrampilan untuk menunjang khotbah sangat penting. Oleh karena itu untuk belajar berkhotbah harus juga memperhatikan latihan-latihan seperti;
a.       Ketrampilan Berbicara 
Ketrampilan ini merupakan hal yang mutlak diperlukan oleh seorang pengkhotbah. Jika seorang ingin belajar berkhotbah, maka ia tidak boleh putus asa dalam memiliki ketrampilan berbicara. Ketrampilan dapat diperoleh dengan memintanya kepada Tuhan lalu kemudian melatih diri (ora et labora). Musa pada waktu dipanggil Allah, ia berkata, “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah. Tetapi Tuhan berfirman kepadanya: Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni Tuhan? (Kel 4:10-11). Tuhan memanggil orang untuk memberitakan Firman-Nya dan karena itu sebagai konsekuensinya, Ia pun akan memperlengkapi orang tersebut. Allah dapat memberikan karunia khusus untuk berbicara, namun dalam banyak hal, Ia juga senang jika manusia mempersembahkan yang terbaik bagi Allah dengan melatih diri untuk memperoleh ketrampilan berbicara dan Ia memberkati dan memperlengkapinya. Ketrampilan yang harus dimiliki oleh seorang pengkhotbah meliputi segi- segi teknik yang harus dikuasai oleh seorang pengkhotbah, sehingga dapat menghasilkan bunyi atau suara yang baik. Ingatlah prinsip ini: “Setiap orang bisa berbicara tetapi seorang pengkhotbah harus berbicara lebih baik dan lebih indah. Segi-segi tersebut menyangkut :
1. Volume suara 
Volume suara harus wajar.
Volume suara yang terlalu kecil atau lemah menyatakan rasa malu atau takut. Volume suara yang terlalu keras menyatakan rasa tegang, nervous dan gelisah. Karena itu setiap kali mulai berbicara, adalah penting untuk mendengar suara sendiri, apakah suaranya cukup, perlu dipertahankan atau ditingkatkan atau direndahkan sesuai kebutuhan disertai kontrol terus-menerus agar tetap stabil.
2.    Sifat suara 
Setiap orang mempunyai sifat suara/warna suara yang khas. Jadi tidak perlu menirukan orang lain.
3.    Irama suara 
Irama suara harus bervariasi agar lebih enak didengar, lebih mudah dipahami dan tidak membosankan. Irama suara meliputi: kapan harus bicara keras dan kapan harus bicara pelan, kapan dengan kalimat panjang dan kapan dengan kalimat pendek, kapan cepat dan kapan lambat, kapan turun dan kapan naik, kapan harus pause/diam sejenak dan kapan dipenggal, dan sebagainya.



4.    Panjang pendeknya kalimat 
Panjang pendeknya kalimat harus melihat kebutuhan. Hal ini berkaitan dengan tempo bicara. Bagi orang yang cenderung bicara lambat, lebih baik menggunakan kalimat yang pendek, singkat dan ekspresif sehingga bicara terasa lebih cepat. Bagi orang yang cenderung bicara cepat, sebaiknya menggunakan kalimat yang panjang sehingga pendengar dapat mengikuti dengan baik dan memahami maksud kalimat tersebut.
5.    Pause dan pemenggalan kalimat 
Pause adalah perhentian sejenak (jeda) yang menjembatani peralihan dari fase yang satu ke fase yang lain. Pause dan pemenggalan kalimat yang benar, penting sekali untuk menekankan gagasan-gagasan yang perlu.

b. Ketrampilan Olah Vokal
Pengaturan pernafasan dalam berbicara sangat penting. Karena itu perlu latihan pernafasan agar mampu bernafas lebih panjang dan kemudian mampu berbicara dengan lebih baik.
c. Ketrampilan Olah Tubuh
Untuk memperoleh sikap tubuh yang baik dalam penampilan tidaklah mudah. Keseluruhan sikap tubuh seperti: tatapan mata, ekspresi wajah dan gerakan-gerakan tubuh yang lain merupakan suatu bahasa tanpa kata. Oleh sebab itu, apabila setiap gerakan digabungkan dengan kata-kata secara keseluruhan akan sangat bermanfaat bagi pendengar. Namun demikian harus sesuai dengan berita yang dibawakan. Hal-hal yang perlu diperhatikan
  1. Pandangan Mata
    Pandanglah semua orang secara seimbang, sehingga interaksi berjalan dengan hangat dan baik. Hindarilah tatapan liar, tatapan yang hanya terfokus pada satu arah, tatapan ke atas, atau muka menunduk. Pandanglah semua orang secara merata. Apabila ada orang terlihat, atau sedang berjalan di luar jendela, jangan sekali-sekali kita meliriknya, karena akan mengganggu konsentrasi baik bagi pengkhotbah maupun bagi pendengar.
  2. Ekspresi Wajah Ekspresi wajah (mimik) sangat dibutuhkan untuk membahasakan maksud dari kata-kata khotbah yang disampaikan. Jika ingin membawa suasana sukacita, bersukacitalah. Sebaliknya jika ingin menunjukkan kesedihan tunjukkanlah muka yang sedih atau prihatin. Misalnya, percuma jika jemaat diajak bersukacita padahal muka pengkhotbah sedang cemberut.
Hindarilah mimik yang tegang dan dingin, tetapi jangan mengobral tawa dan sebagainya yang bisa menimbulkan kesan murahan. (Band. 2Tim 1:7).

BEBERAPA HAL BAGI PENGKHOTBAH UNTUK MENINGKATKAN KHOTBAHNYA
  1. Banyak membaca khotbah-khotbah orang-orang tersohor.
  2. Memperhatikan cara-cara mereka menyelidiki, menyampaikan, struktur, bahasa dll. Setelah itu perhatikan kelebihan dan kekurangan mereka.
  3. Banyak membaca dan mendengar riwayat orang-orang terkenal, bagaimana cara mereka meningkatkan kemampuan mereka dan sikap mereka ketika berkhotbah dan setelah berkhotbah.
  4. Banyak membaca buku psikologi Kristen dan psikologi pada umumnya yang dipandang dari sudut iman Kristen. Hal ini akan menolong untuk mengetahui pergumulan manusia dan karakter serta kebutuhan manusia. Pengetahuan ini akan menolong pengkhotbah untuk dapat berkhotbah yang menjawab kebutuhan pendengar.
  5. Mintalah seorang teman untuk memberitahukan kelemahan kita. Tidak ada orang yang sempurna karena itu evaluasi sangatlah penting peranannya.
  6. Bersyukurlah karena di dalam Alkitab banyak sekali ajaran dan contoh kebenaran. Karena itu mintalah pada Tuhan untuk mempunyai hati yang tidak cepat puas setelah menyelesaikan satu penggalian/khotbah yang baik. (Kel 4:10-11)
  7. Catatlah peristiwa-peristiwa yang menarik dan mengesankan, apakah itu peristiwa yang lucu atau yang meyedihkan atau yang mendatangkan semangat. Catatlah kata-kata yang menarik yang mungkin kita temukan. Semua catatan ini akan sangat membantu kita dalam mempersiapkan khotbah.
  8. Dengarkanlah kaset-kaset khotbah dari berbagai pengkhotbah (jika berbesar hati, juga dari berbagai aliran), kemudian evaluasilah. Semua ini akan memperkaya metode khotbah kita.
  9. Harus diingat, berkhotbah adalah pekerjaan yang Tuhan berikan pada seorang hamba Tuhan (pengkhotbah) sepanjang umur, sehingga harus memacu diri untuk selalu meningkatkan mutu khotbah (Inovatif).



BAHAYA-BAHAYA YANG MENGANCAM PENGKHOTBAH

Pengkhotbah harus memperhatikan beberapa Pokok berikut ini. (band. 1Ti 4:12-16; 1Ko 9:27)
1.    TELADAN
Harus jadi teladan bagi orang lain
Tanpa memiliki keteladanan yang baik, jemaat akan mengalami kesulitan untuk dapat menerima berita yang disampaikan oleh pengkhotbah. Seorang pengkhotbah yang tidak bisa mengontrol emosinya mungkin dapat berkhotbah dengan baik, namun sikapnya itu akan menghalangi jemaat untuk dapat menerimanya dengan baik. Akhirya, tidak akan sampai pada tujuan khotbah itu sendiri.
2.    BERTEKUN DALAM MEMBACA ALKITAB
Tanpa pembacaan Alkitab yang teratur, maka berita Firman Tuhan tidak menyatu dengan kehidupan pengkhotbah dan akhirnya penyampaian Firman Tuhan hanya akan bersandar pada fasih lidah saja. Penghayatan yang kuat akan Firman Tuhan akan menolong dalam menyampaikan khotbah yang baik.
3.    MENUNTUT KEMAJUAN
Dunia yang berkembang dengan cepat menuntut pengkhotbah juga harus dapat mengantisipasi perubahan tersebut agar ia dapat menjawab kebutuhan pada zamannya. Seorang pengkhotbah dapat terjebak kepada kemalasan untuk terus mengikuti perubahan yang sedang terjadi.
4.    AWAS SOAL UANG
Seorang yang memiliki motivasi yang murni dapat berubah jika ia mulai terkenal. Seorang pengkhotbah yang “laris” dapat terjebak ke dalam cinta akan uang atau khotbahnya dikomersilkan. Jika melayani, ia akan mempertimbangkan apakah dapat menghasilkan keuntungan materi atau tidak. Tidak heran banyak kasus bahwa pelayanan yang sudah di terima akan dibatalkan apabila ada permintaan untuk berkhotbah di tempat yang mendatangkan kehormatan lebih atau uang yang lebih. Hati-hatilah soal uang. Alkitab berkata, “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (1Tim 6:10).


5.    AWAS DALAM PENGAJARAN-PENGAJARAN DAN PEMBAWAAN DIRI
Alkitab berkata, “… Awasilah ajaranmu… (1Tim 4:16):
a.       Harus hati-hati jangan sampai diri sendiri ditolak.
b.    Jangan kebal terhadap Firman Tuhan yang hendak di sampaikan, perhatikan kepekaan.

6.    JANGAN SOMBONG BAGI YANG FASIH LIDAH DAN DAPAT BERKHOTBAH DENGAN BAIK; Pengkhotbah hanyalah alat Tuhan.

7.    MENGKHOTBAHKAN SECARA BERULANG-ULANG KHOTBAH YANG SAMA, KARENA KEMALASAN DAN TIDAK PERSIAPAN.



PENGKHOTBAH DAN PERSIAPANNYA

1.    PERSIAPAN HATI   DAN MENTAL
Semakin banyak berdoa dan bersaat teduh dengan Tuhan menolong untuk semakin tenang, persiapan yang cukup menolong untuk semakin mantap. Latihan-latihan menolong untuk semakin terampil sehingga memiliki keberanian untuk tampil di depan umum.
2.    PERSIAPAN SARANA DAN PRASARANA
Siapkan beberapa terjemahan Alkitab, lexikon, konkordansi, kamus Alkitab, tafsiran-tafsiran, koran, majalah, artikel, baik cetak maupun elektronik (tv, internet, dll), ohp, alat ilustrasi, dan lain sebagainya.
3.    PERSIAPAN BAHAN
Ketahuilah latar belakang, arti dan makna Firman yang dipelajari, struktur, rangkaian kalimat, karakter orang-orang yang ditulis, dan sebagainya.
4.    PERSIAPAN GAYA DAN PENAMPILAN
Perhatikan kerapian dan keserasian pakaian dan rambut atau apapun asesoris yang dikenakan. Adalah baik untuk bercermin dahulu sebelum berkhotbah untuk membenahi apa yang perlu. Kemudian harus selalu memikirkan gaya yang cocok dengan situasi pendengar (jika perlu dilatih; latihlah!). Semua itu untuk mendukung berita yang hendak disampaikan dan untuk menambah kepercayaan diri untuk tampil di muka umum.
Ingatlah dua hal ini; Pengkhotbah yang kurang persiapan akan terlihat di mimbar. Pengkhotbah yang hidupnya kurang dipersiapkan dengan baik akan terlihat dalam perbuatannya. Plato berkata, “Jika seorang mau mengenal kebenaran maka ia harus terus belajar, jika seorang mau mengabarkan kebenaran maka ia harus belajar dua kali lipat.”







JENIS-JENIS KHOTBAH
Pengelompokan yang paling umum adalah berdasarkan proposisi dan bagian-bagian, yaitu : khotbah topical, tekstual, dan ekspositori.
Khotbah Topikal
Defenisis Khotbah Topikal adalah : suatu khotbah yang bagian-bagian utamanya diambil dari Topiknya  atau Pokoknya, lepas dari teks (braga, p. 5).
Maksud dari definisi ini adalah bahwa bagian-bagian utama dari khotbah diambil dari topic atau pokok yang akan disampaikan dalam khotbah. Jadi bagian-bagian utama di ambil dari ide-ide yang terbit dari topic yang sedang akan dikhotbahkan.
Berkhotbah dengan bentuk topical secara implisit memberikan makna kurang Alkitabiah, karena topic yang dikhotbahkan tidak langsung dari nas, tetapi dapat diambil dari topic-topik yang sedang berkembang. Namun dalam kasusu ini, braga menyarankan agar setiap pengkhotbah memulai dengan suatu pokok pembicaraan dari topic yang Alkitabiah. Oleh karena itu, bagian-bagian utama khotbah harus ditunjang oleh sebuah ayat firman Tuhan.
Contoh khotbah topikal tentang “penyembahan,” maka topic tentang penyembahan-lah yang menentukan ide-ide  selanjutnya dalam pengembangan khotbah ini.  Perhatikan contoh berikut ini:
Topik                           :  “IMAN”
NAS Khotbah             : Lukas 17: 5 – 6.
Bagian-bagian Utama Khotbah :
1.                   Perlunya Iman (Ibrani 11 : 6)
2.                   Sumber Iman (Roma 10: 17)
3.                   Kuasa Iman (Mark 11:20-24)

Pemilihan Topik
Sebagai seorang pengkhotbah yang menyuarakan kebenaran Allah dan Firman-Nya, sebaiknya carilah pimpinan-Nya. Pimpinan Tuhan dapat kita menemukannya melalui berdoa, dan membaca firman Tuhan dengan teratur. Pemilihan topic juga dapat ditentukan oleh tema yang diberikan kepada pengkhotbah sebagai pokok khotbahnya, atau acara khusus dimana khotbah akan disampaikan. Bahkan kondisi-kondisi di antara jemaat juga dapat menunjukkan keperluan atau keinginan pemilihan topikyang tepat untuk situasi tersebut.


PRINSIP-PRINSIP DASAR PERSIAPAN
“KERANGKA KHOTBAH TOPIK”

1.    Bagian-bagian utama harus menurut susunan logika dan atau kronologi.
2.    Bagian-bagian utama dapat berupas analisa pokok itu.
3.    Bagian-bagian utama dapat mengemukakan berbagai bukti mengenai pokok
      itu.
4.    Bagian-bagian utama dapat merupakan penguraian pokok dengan jalan
      perbandingan atau pertentangan.
5.    Bagian-bagian utama dapat dinyatakan dengan ungkapan Alkitab tertentu
      yang diulangi sepanjang kerangka itu.
6.    Bagian-bagian utama dapat ditunjang oleh kata atau ungkapan Alkitab yang
      identik.
7.    Bagian-bagian utama juga dapat terdiri atas penyelidikan kata dengan
      menunjukkan aneka arti sebuah kata-kata tertentu dalam Alkitab.
8.    Bagian-bagian utama seharusnya tidak ditopang dengan ayat-ayat bukti yang
      tafsirannya tidak sesuai dengan konteksnya.

Keunggulan Khotbah Topikal
1.      Pengkhotbah dapat mengembangkan berbagai aspek berita Alkitab secara bebas. Batasan pembahasan luas. Materi yang dibahas dapat ditambahkan atau dikurangi atas dasar pertimbangan waktu dan isi khotbah.
2.      Sesuai dengan kebutuhan yang nyata, teristimewa kebutuhan jemaat atas suatu masalah. Melalui khotbah ini, pengkhotbah memberikan solusi yang Alkitabiah untuk memecahkan masalah tersebut.

Kelemahan Khotbah Topikal
1.      Cenderung untuk menggantikan kebenaran Allah dengan pemikiran manusia. Bahkan ada suatu bahaya lain, yaitu kecenderungan “keduniawian,” sehingga penyampaian bersifat pidato, dan bukan khotbah.
2.      Kebiasaan dalam penggunaan khotbah ini dapat menimbulkan bias. Contoh : apabila pengkhotbah ahli dalam bidang kemasyarakatan, pengkhotbah cenderung akan membahas masalah masyarakat.
3.      Pengkhotbah tidap perlu untuk meneliti konteks dan penafsiran ayat, mungkin juga tidak meneliti konteks latar belakang historisnya, dan lain sebaginya yang berhubungan dengan teks.
4.      Satu krisis yang lebih penting lagi, pengkhotbah hanya memperalat Alkitab dan bukan membahas Alkitab. Menggunakan sebagai bahan pendukung pandangan pribadi pengkhotbah. Apabila tidak berhati-hati, akan cenderung salah langkah atau bersifat ekstrem.

Khotbah Tekstual.

Definisi Khotbah Tekstual adalah: khotbah yanhg bagian-bagian utamanya diperoleh dari suatu teks yang terdiri atas suatu bagian Alkitab yang pendek. Setiap bagian ini dipakai sebagai garis saran dan teks memberikan tema khotbah itu.
Dari definisi ini, dapat dijelaskan sbb:
1.    Kerangka utama dari khotbah tetap berada dalam batas-batas teks tersebut.
2.    Teks dapat terdiri dari hanya satu ayat, atau seluruh ayat, dan dua atau tiga ayat.
3.    Bagian “utama” yang diambil dari teks “dipakai sebagai suatu garis saran.” Artinya bahwa bagian-bagian utama itu menyarankan hal-hal yang akan dibicarakan dalam khotbah.
4.    Karena pada suatu teks terkadang terdapat banyak kebenaran, maka kebenaran-kebenaran itu dapat dipakai untuk menguraikan pikiran-pikiran yang terdapat dalam kerangka khotbah.
5.    Bagian-bagian tambahan dapt berasal dari teks tersebut, dan dapat juga diambil dari bagian-bagian lain dari Alkitab.
6.    Dalam khotbah tekstual, proses kerja dimulai dari Teks, dan ide utama khotbah di dasarkan pada teks.



Contoh Khotbah Tekstual  :
Teks Sumber  “Ezra 7: 10 : “Sebab Ezra telah bertekat untuk meneliti taurat Tuhan dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel.”
Teks tersebut menekankan pada satu kata “bertekat.” Kata ini dapat diterjemahkan dengan “menetapkan hati.” Dengan demikian kerangka dari khotbah tekstual dari teks ii dapat disusun sbb:
Thema : Ketetapan Hati Ezra
1.      Ketetapan Hati Untuk Meneliti Firman Tuhan
a.    Di tengah-tengah Istana Kafir
b.    Dengan Cara Teliti
2.      Ketetapan Hati Untuk Mentaati Firman Allah
a.    Memberikan Ketaatan yang Rela
b.    Memberikan Ketaatan yang Sempurna
c.    Memberikan Ketaatan tanpa Putus-putusnya.
3.      Ketetapan Hati UntukMengajar Firman Tuhan
a.    Dengan Kejelasan
b.    Kepada Umat Allah.

Prinsip-prinsip Dasar Persiapan Kerangka Khotbah Tekstual
1.      Kerangka Tekstual berpusat pada suatu pikiran utama dalam teks dan bagian-bagian utamanya harus diambil dari teks sumber, kemudian mengembangkan dan memperluas tema yang satu itu.
2.      Bagian-bagian utama dapat terdiri atas lebenaran-kebenaran atau prinsip-prinsip yang disarankan oleh teks.
3.      Di dalam satu teks mungkin saja terdapat lebih dari satu tema, atau pikiran yang menonjol, tergantung dari sisi mana kita memandang teks tersebut. Apabila terdapat beberapa tema dala teks, kembangkan satu pokok saja menjadi satu kerangka khotbah.
4.      bagian-bagian utama harus disusun dalam urutan logika dan kronologi.
5.      Kata-kata dalam teks dapat menjadi bagian-bagian utama dari kerangka.
6.      Konteks dari teks harus diselidiki dengan seksama dan dihubungkan dengan teks.
7.      bagian-bagian utama dilandaskan perbandingan, persamaan-persamaan dan atau pertentangan dalam teks.
8.      Dua atau tiga ayat yang diperoleh dari bagian-bagian Alkitab yang berbeda-beda dapaty disatukan dan digarap seperti satu teks.

Keunggulan Khotbah Tekstual
1.      Ayat singkat dan terfokus, sehingga mudah dalam persiapan khotbah. Cara ini sangat baik untuk para pengkhotbah pemula.
2.      Cara ini akan mudah diikuti para pendengar, mudah dimengerti.
3.      Dikhotbahkan ayat per ayat, sehingga pembahasan terfokus pada konteks ayat.

Kelemahan Khotbah Tekstual
1.      Ada saatnya pembagian bagian utama secara berurutan cenderung dipaksakan.
2.      Ada saatnya pengambilan satu ayat atau dua ayat Alkitab tanpa melihat konteksnya. Ini akan menimkbulkan kesalah pahaman, bahkan juga dapat mengalih-tafsirkan kebenaran.
3.      Jika cara ini dipakai terus-menerus akan menimbulkan rasa bosan pendengar.
4.      Ada saatnya satu perikop ayat yang baik, namun sulit dijadikan khotbah tekstual.

Khotbah Ekspositori
Definisi Khotbah Ekspositori adalah : suatu khotbah dimana suatu bagian Alkitab yang pendek atau panjang di-artikan dalam hubungan dengan satu tema atau pokok. Bagian terbesar materi khotbah diambil langsung dari nas Alkitab tersebut dan kerangkanya terdiri dari serangkaian ide-ide yang diuraikan secara bertahap dan berpangkal pada satu ide utama.
Berdasrkan definisi tersebut, khotbah Eskpositori dapat dijelaskan sbb :
1.      Khotbah Ekspositori di-dasarkan pada suatu bagian Alkitab yang pendek atau panjang, dan terfokus pada satu tema atau pokok.
2.      Khotbah ini secara khusus terdiri dari sejumlah ayat dan dari ayat-ayat itulah ditemukan ide pokok khotbah.
3.      Bagian-bagian utama dan bagian-bagian tambahan dari khotbah adalah bersumber dari nas yang akan diuraikan.
4.      Khotbah ekspositori bertujuan untuk menjelaskan arti / kebenaran yang terkandung dalam nast sumber, sehingga kebenaran yang terdapat dalam nas tersebut menjadi jelas dan terang, dalam hubungannya dengan situasi masa kini.

      Haddon W. Robinson mengemukakan bahwa khotbah ekspositori merupakan komunikasi atas suatu konsep Alkitabiah yang diperoleh dan disampaikan melalui suatu studi histories, gramatikal, dan kesusasteraan atau suatu perikop dengan konteksnya, yang pertama-tama diterapkan oleh Roh Kudus kepada pribadi pengkhotbah, dan kemudian kepada pendengarnya.

Perbendaan Antara Khotbah Tekstual dengan Khotbah Ekspositori.
Khotbah Tekstual
Khotbah Ekspositori
Teks Alkitab yang pendek, biasanya satu atau dua ayat, bahkan terkadang sebagian dari ayat
Teksnya mungkin pendek, atau panjang, dan dapat juga mencakup seluruh pasal atau lebih dari itu.
Bagian-bagian utamanya diambil dari teks kitab, sedangkan bagian-bagian tambahan diambil dari nas lain, di luar teks nas dasar.
Bagian-bagian utama dan tambahan semuanya bersumber pada teks kitab yang dijadikan dasar pemberitaan.
Uraian khotbah dijelaskan dapat didukung dengan pernyataan kitab-kitab lainnya.
Uraian khotbah seluruhnya dijelaskan secara terperinci tentang suatu bagian tertentu dari kitab dan nas Alkitab itu terjalin dalam seluruh uraian.
Khotbah tekstual ini dapat digarap secara ekspositori.

Contoh Khotbah Ekspositori :
Judul         : Pertarungan Iman yang Baik.
Pokok        : Unsur-unsur yang Berhubungan Dengan Perang Rohani Orang Percaya.
Nas Kitab  : Efesus 6:10-18
1.      Semangat Juang Orang Kristen, ayat 10-14a
2.      Harus tinggi, ayat 10.
3.      Harus tabah, ayat 11-14a.
4.      Perlengkapan Orang Kristen, ayat 14-17.
a.    Harus bersifat defensif, ayat 14-17a.
b.    Harus bersifat ofensif, ayat 17b.

III. Kehidupan Doa orang Kristen, ayat 18.
1.      Harus dengan tekun, ayat 18a.
2.      Harus merupakan doa syafaat, 18b.

Susunan Teknis Suatu Bagian Alkitab.

Mempelajari Alkitab memberi manfaat pada waktu mempersiapkan suatu susunan teknis sebuah bagian Alkitab untuk menentukan strukturnya. Untuk membuat suatu susunan teknis, kita harus
1.      Menuliskan pertanyaan-pertanyaan utama teks itu sedemikian rupa sehingga membuat teks itu sangat berarti bagi kita.
2.      Kita harus membedakan antara induk kalimat dan anak kalimat dengan menulisnya agak masuk ke kanan.
3.      Rangkaian kata-kata, ungkapan-ungkapan, atau anak kalimat harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga kelihatan hubungannya satu dengan yang lainnya.
4.      Kita juga harus mementingkan kata kerja utama, kata-kata atau ide yang penting, termasuk kata-kata penghubung yang penting seperti : sekarang, untuk, dan, tetapi, kemudian, dan oleh sebab itu (braga, p. 51).
  

LANGKAH DALAM PERSIAPAN NASKAH KHOTBAH

Bentuk Khotbah Ekspositori
       Khotbah Ekspositori adalah bentuk khotbah yang mengupas nas Alkitab berdasarkan konteksnya. Yang dimaksud konteks adalah nas sebelum atau sesudah dari nas yang akan dikhotbahkan, atau latar belakang dari nas sampai kitab tersebut. Berikut tujuh langkah dalam menyusun khotbah ekspositori:
Langkah I: Memilih Nas Khotbah
       Sebelum persiapan membuat khotbah, yang sangat penting adalah menentukan nas Alkitab yang akan dikhotbahkan. Memilih dan menentukan nas yang tepat akan menjadi “menu” makanan rohani yang mudah dimasak dan lezat untuk dihidangkan.
Cara memilih nas Alkitab:
  1. Dengan berdoa memohon pimpinan Roh Kudus.
    Hubungan pengkhotbah dengan Tuhan akan menemukan kepekaan kehendak-Nya.
  2. Dengan menyelidiki nas yang sudah memberkati.
    Hubungan pengkhotbah dengan pengalaman akan menghidupkan pemberitaannya.
  3. Dengan menyesuaikan kebutuhan pendengar.
    Hubungan pengkhotbah dengan sesama akan menjadikan khotbah mem-”bumi”.
  4. Dengan mencari sesuai tema yang diminta.
    Hubungan pengkhotbah dengan perkembangan zaman khotbahnya akan akurat.
  5. Dengan mempertimbangkan kemampuan pengkhotbah.
    Hubungan pengkhotbah dengan proses pembelajaran akan menjadi khotbah yang relevan.
  6. Dengan satu kesatuan nas yang logis dan praktis.
o     Khotbah adalah mengomunikasikan hubungan pengkhotbah dengan Alkitab.
o     Perhatikan nas dalam konteks dekat dan konteks jauh.
o     Perhatikan latar belakang sejarah kitab.
o     Gunakan metode penafsiran induktif bukan deduktif.


Hal yang perlu diwaspadai dalam memilih nas:
1.    Jangan memilih hanya nas-nas yang sudah terkenal.
2.    Jangan hanya biasa dengan kitab Perjanjian Baru atau Injil-injil, pelajarilah Perjanjian Lama.
3.    Jangan memilih karena ada “pesan sponsor” atau karena motif khusus.
4.    Jangan memilih karena nas yang hanya menjadi kesukaan pribadi.
5.    Jangan menentukan nas hanya karena pengalaman pribadi.

Contoh memilih nas khotbah
Nas
Alasan memilih nas tersebut
Karena nas ini sudah memberkati secara pribadi.
Karena sesuai kebutuhan pendengar.
Karena sesuai tema untuk khotbah akhir tahun.
Karena terpanggil untuk menyampaikan.
Karena tertark dengan biografi tokoh doa.

Latihan memilih nas khotbah
       Pilihlah lima nas yang memiliki satu kesatuan logis (satu kesatuan pikiran) dan praktis (bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari). Berilah alasan mengapa nas tersebut dipilih.

Langkah II: Membuat Tema Khotbah
      Setelah memilih nas, bacalah nas berulang-ulang kali, kemudian ringkaslah nas tersebut menjadi satu kalimat. Kalimat hasil ringkasan nas ini disebut tema khotbah. Satu nas bisa muncul menjadi beberapa tema, tetapi pilihlah salah satu tema yang sangat dominan, di mana tema tersebut adalah hasil dari ringkasan nas, dan tema tersebut akan menjelaskan nas.

Hal yang harus dicegah dalam memilih tema
1.        Artinya tidak jelas
2.        Aneh-aneh (misal: Di sini bingung di sana bingung)
3.        Tidak Sopan (misal: Orang Pincang)
4.        Bersifat menyerang dan atau menyindir seseorang


Sumber Tema dari Alkitab
1.        Tokoh-tokoh Alkitab
2.        Hari Besar Gereja (Natal, Paskah, Pentakosta, dll)
3.        Konteks hidup sehari-hari (keluarga, bangsa, pemilu, krismon, dll)
4.        Masalah-masalah etika (abortus, perselingkuhan, pajak, suap, dll).
Contoh
·           Pasif-Dilahirkan Kembali
·           Aktif-Setia sampai Mati; Hanya Pandang Yesus; dll
·           Bersifat 5 w + H-Who, What, Where, When, Why, How
·           Tekstual-Matius 2:1-12 -Persembahan Orang Majus; 4 Macam Manusia (Herodes, imam, orang majus, orang Yahudi)
·           Pertanyaan-Siapakah Yesus Itu?; Apakah Merokok itu Dosa?
·           Bersifat Argumen-Hanya Satu Jalan
·           Perbandingan-Sombong dan Rendah Hati
·           Kalimat tegas-Hai Maut di mana Sengatmu!; Selamatkan Jiwa yang Tersesat!; Engkau Harus Menyembah Tuhanmu!; dll.

     Contoh membuat tema khotbah
Nas
Kemungkinan tema khotbah yang bisa dipilih
Mukjizat Itu Nyata
Berkat yang Melimpah-melimpah
Menjadi Orang yang Istimewa di Hadapan Tuhan
Menghadirkan Yesus dalam Keluarga
Keluarga yang Diberkati
Tuhan Memberi yang Terbaik
Memanfaatkan Waktu dengan Bijaksana
Rukun itu Indah
Doa yang Mengubah Keadaan



Latihan membuat tema khotbah
Pilihlah tiga nas Alkitab, masing-masing nas buatlah tiga tema khotbah. Kemudian pilihlah satu tema saja, dan berilah alasan mengapa tema tersebut dipilih.
Langkah III: Membuat Kalimat Peralihan
Kalimat peralihan adalah sebuah kalimat yang akan menjembatani atau menjabarkan tema khotbah ke dalam nas Alkitab. Dalam kalimat peralihan terdiri dari: tema khotbah + kata bantu + kata kunci + kata tanya.
Memakai kalimat peralihan harus mempersiapkan jawabannya dari kata kunci tersebut di dalam nas. Jika kata kunci syarat-syarat, pastikanlah Ialam nas berisi syarat-syarat. Jika kata kunci langkah-langkah, pastikanlah bahwa dalam nas ada langkah-langkah. Kemudian pakailah kata tanya. Dan, pastikanlah jawabannya ada di dalam nas.

 

       Kata kunci selalu jamak, untuk diulang-ulang saat transisi dari pokok besar satu ke pokok besar lainnya.
DAFTAR KATA KUNCI
Alasan-alasan
Kebenaran-kebenaran
Peraturan-peraturan
Bukti-bukti
Keputusan-keputusan
Prioritas-prioritas
Bahaya-bahaya
Keuntungan-keuntungan
Pelajaran-pelajaran
Berkat-berkat
Kekurangan-kekurangan
Peringatan-peringatan
Cara-cara
Kesan-kesan
Perintah-perintah
Ciri-ciri
Kebutuhan-kebutuhan
Syarat-syarat
Dosa-dosa
Kesalahan-kesalahan
Sikap-sikap
Faedah-faedah
Langkah-langkah
Tugas-tugas
Faktor-faktor
Masalah-masalah
Teguran-teguran
Janji-janji
Nasihat-nasihat
Unsur-unsur


Daftar kata kunci bisa ditambahkan sesuai kebutuhan
       Dalam membuat kata tanya, pastikanlah Anda sudah memikirkan jawabannya di dalam nas yang akan dikhotbahkan. Ada enam kata tanya. Dan, dalam satu khotbah hanya menggunakan satu kata tanya. Contoh penggunaan kata tanya, dan kaitannya dengan kata kunci.
Kata Tanya
Jawaban
Apakah langkah-langkahnya?
Langkah-langkahnya: 1,2,3, dst.
Bagaimana cara menerapkan prinsip-prinsip?
Prinsip-prinsipnya: 1,2,3, dst.
Mengapa rukun itu indah?
Karena berkat-berkat: 1,2,3, dst.
Siapakah yang bijaksana?
Yang memiliki nilai-nilai: 1,2,3, dst.
Di mana Gembala menjaga domba-Nya?
Tempat-tempat: 1,2,3, dst.
Kapan Tuhan mengatur kita?
Dalam waktu-waktu: 1,2,3, dst.





Latihan membuat kalimat peralihan
       Pilihlah tiga nas, misalnya dari Lukas 5:1-11, Yohanes 2:1-11, dan Mazmur 90. Buatlah tema khotbah, dengan kalimat peralihan. Dan juga persiapkan kata tanyanya.

Langkah IV: Membuat Pokok Besar
       Pokok besar adalah ide-ide dari bagian-bagian nas yang akan dibuat dalam bentuk ringkasan yang disesuaikan dengan tema khotbah dan kata kunci (jamak). Pokok besar ini juga menjadi jawaban dari kata tanya dalam langkah 3.
Pokok besar yang baik akan memperhatikan unsur-unsur:
1.      Satu kata atau kalimat yang sejajar sesuai kata kunci. Jika kata kuncinya perintah, pokok besarnya berisi perintah-perintah. Jika kata kuncinya langkah, pokok besarnya berisi langkah-langkah.
2.      Satu kata atau kalimat yang mudah dimengerti dan relevan.
3.      Pilihlah yang unik (contoh: kesamaan huruf, bunyi), mudah diingat, relevan.
4.      Kreatif dan bersumber dari bagian-bagian nas.
5.      Setiap pokok besar harus dicantumkan asal ide, atau kutipan ayat dari nas.
       Ingat! Kata kunci harus jamak, harus diulang-ulang saat transisi dari pokok besar satu ke pokok besar lainnya.

Contoh membuat pokok-pokok besar (1)
Nas Alkitab
:
Nehemia 1
Tema khotbah
:
Doa yang Mengubah Keadaan
Kalimat peralihan
:
Doa yang mengubah keadaan dengan mengikuti langkah-langkah dalam Nehemia 1:1-11. Apa langkah-langkahnya?
  1. Doa dengan terbeban
    “Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit” (
    Nehemia 1:4).
  2. Doa dengan merendahkan diri
    “Duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa” (
    Nehemia 1:4). Juga, “Dengan mengaku segala dosa yang kami orang Israel telah lakukan” (Nehemia 1:6).
  3. Doa dengan berusaha
    “‘Ya, Tuhan, berilah telinga kepada doa hamba-Mu ini dan kepada doa hamba-hamba-Mu yang rela takut akan nama-Mu, dan biarlah hamba-Mu berhasil hari ini dan mendapat belas kasihan dari orang ini.’ Ketika itu aku ini juru minuman raja” (
    Nehemia 1:11)

Contoh membuat pokok-pokok besar (2)
Nas Alkitab
:
Tema khotbah
:
Keluarga yang Diberkati Tuhan
Kalimat peralihan
:
Keluarga yang diberkati dengan mengikuti langkah-langkah dalam Yohanes 2:1-11. Apa langkah-langkahnya?
  1. Mengundang Yesus
    “Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu” (
    Yohanes 2:2).
  2. Menaati firman Tuhan
    “Apa yang dikatakan kepadamu, lakukanlah [taatilah] itu” (
    Yohanes 2:5).
  3. Memanfaatkan potensi
    “Di situ ada enam tempayan …” (
    Yohanes 2:6).

  1. Melangkah dengan iman
    “Kata Yesus kepada mereka, ‘Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pernimpin pesta.’ Lalu mereka pun membawanya”
    (
    Yohanes 2:8).

Latihan membuat pokok besar
       Pilihlah dua nas, misalnya Lukas 5:1-11 dan Yohanes 2:1-11. Buatlah pokok-pokok besar. Buatlah mulai dari langkah pertama sampai langkah keempat (tema, kalimat peralihan, pokok besar).

Langkah V: Membuat Pokok Kecil
       Maksud membuat pokok-pokok kecil adalah menjelaskan pokok-pokok besar dengan dukungan nas dan uraian-uraian sesuai tema khotbah.

Pokok kecil biasanya terdiri empat bagian:
  1. Menjelaskan
    Pokok kecil menjelaskan pokok besar dengan ide-ide nas yang didapat dari “kata”, “frasa”, atau “ayat”. Jika ada kata yang memerlukan arti atau definisi, harus dijelaskan menurut kamus atau Ensiklopedia.
  2. Menguraikan
    Pokok kecil menguraikan pokok besar dengan dukungan ayat terdekat, konteks terdekat. Bisa dipakai Buku Tafsiran Alkitab.
  3. Menggambarkan (ilustrasi)
    Pokok kecil menggambarkan pokok besar dalam bentuk nyata, riil. Dalam hal ini bisa dipakai ilustrasi (cara membuat ilustrasi akan dijelaskan lebih lanjut).
  4. Menerapkan
    Dalam pokok kecil harus diberi contoh penerapan yang bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan hares bersifat spesifik, praktis, riil, relevan.

Contoh membuat pokok kecil
Nas Alkitab
:
Tema khotbah
:
Doa yang Mengubah Keadaan
Kalimat peralihan
:
Doa yang mengubah keadaan dengan mengikuti langkah-langkah dalam Nehemia 1:1-11. Apa langkah-langkahnya?
  1. Doa dengan terbeban
    “Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit” (
    Nehemia 1:4).
    1. Menjelaskan
      Nehemia orang buangan yang terhormat menjadi juru minuman raja (
      1:11, 2:1). Ia mendengar dari Hanani (seorang dari Yehuda yang terluput dari penawanan), bahwa kondisi Yerusalem sangat menyedihkan. Orang-orang menderita, temboknya terbongkar, pintu-pintunya terbakar (1:3). Mendengar ini Nehemia “menangis … berkabung…” (1:4). Nehemia sangat “terbeban” atas penderitaan bangsanya, keruntuhan kota, bahkan rusaknya kota Yerusalem.
    2. Menguraikan
      Sebagai orang sukses, Nehemia bisa berpikir egois. Tetapi, Nehemia adalah orang yang peduli terhadap penderitaan umat Allah. Ia memikirkan masalah bangsanya sangat serius, sangat terbeban, sehingga kesedihannya terbaca dalam sikap dan raut mukanya oleh Raja Artahsasta (
      2:2). Nehemia terpanggil membangun Yerusalem, karena terbeban, karena terpanggil. Tanpa pamrih.
             Nehemia mengungkapkan sikap terbeban dengan doa. Dan, pada saat ditanya oleh sang raja, apa keinginannya, Nehemia tidak langsung menjawab atau meminta kepada raja, tetapi kembali berdoa. “Lalu kata raja kepadaku: ‘Jadi, apa yang kauinginkan?’ Maka aku berdoa kepada Allah semesta langit” (
      Nehemia 2:4).
    3. Menggambarkan atau ilustrasi
      (Tidak perlu ilustrasi, karena kisah Nehemia yang terbeban sudah jelas.)
    4. Menerapkan
      Doa akan mengubah keadaan, jika kita memiliki sikap hati yang terbeban secara pribadi. Tanpa rasa terbeban, tdak akan ada doa yang serius.
  2. Doa dengan merendahkan diri
    Memukul dada, menyiram abu di atas kepala, berjalan dengan kaki telanjang, menarik dan menggunting rambut, menyakiti dada (
    Kejadian 37:29-34; 2 Samuel 13:19; Imamat 10:6.). Inilah cara merendahkan diri dengan berkabung.
    1. Menguraikan
      Doa permohonan Nehemia sungguh-sungguh digumuli dengan merendahkan diri di hadapan Tuhan. Ia berdoa “siang dan malam” (
      1:6). Nehemia tidak hanya berdoa secara pribadi. tetapi melibatkan orang-orang lain juga (1:11). Nehemia sebenarnya layak sombong, karena di negeri orang lain, ia bisa berprestasi. Namun, semua prestasi dan kejayaannya harus ditanggalkan tatkala ia berhadapan dengan Allah. Nehemia merendahkan diri. Dalam doanya, ia memohon pengampunan atas dosa-dosa, baik dosa secara pribadi maupun dosa bangsanya (1:6).
    2. Menggambarkan atau ilustrasi
      (Tidak perlu ilustrasi, karena kisah Nehemia dalam merendahkan diri sudah jelas.)
    3. Menerapkan
      Jauhkan kesombongan, tidak ada faedahnya menyalahkan siapa pun, tidak baik menyesali kegagalan dan masalah di sekitar kita. Marilah saatnya kita berdoa dengan merendahkan diri di hadapan Tuhan.
  3. Doa dengan berusaha
    “‘Ya, Tuhan, berilah telinga kepada doa hamba-Mu ini dan kepada doa hamba-hamba-Mu yang rela takut akan nama-Mu, dan biarlah hamba-Mu berhasil hari ini dan mendapat belas kasihan dari orang ini.’ Ketika itu aku ini juru minuman raja” (
    Nehemia 1:11).
    1. Menjelaskan
      Nehemia mengharapkan satu hal: berhasil. Untuk berhasil, diperlukan doa dan usaha. Dalam rangka berusaha, Nehemia menggunakan potensi dan strategi yang didukung doa.
    2. Menguraikan
      Berusaha memanfaatkan potensi:
      “Ketika itu aku ini juru minuman raja” (
      Nehemia 1:11). Kedudukan, jabatan adalah sebuah potensi yang bisa digunakan untuk akses hubungan yang lebih luas.
      Berusaha menggunakan strategi:
      Setelah raja memberi kesempatan kepada Nehemia, ia memakai strategi memohon surat rekomendasi atau surat jalan agar bupati-bupati yang wilayahnya akan dilewati memperlancar tujuannya (
      2:7,8).
      Berusaha dengan kerja keras:
      Nehemia menghadapi banyak tantangan. Dari Sanbalat yang menolak Yerusalem dibangun kembali (
      2:10,19; 6:1-19). Nehemia mengandalkan doa (4:9). Dan, siap berperang (4:1-23). Inilah berdoa dengan berusaha. Akhirnya, pekerjaan selesai (6:15), dan seluruh cita-cita berhasil (7:1).
    3. Menggambarkan atau ilustras (dijelaskan dalam lembaran tersendiri)
    4. Menerapkan
      Untuk mengubah keadaan diperlukan doa dan usaha. Tuhan adalah sumber mukjizat, tetapi tidak berarti kita pasif. Kita harus berusaha sesuai dengan panggilan kita: usaha bekerja lebih keras, melayani lebih baik, mengampuni dengan tulus, mengasihi tanpa pamrih, dan lain sebagainya. Suatu tindakan keliru, bahkan mencobai Tuhan jika kita hanya berdoa tanpa mau berusaha.

Latihan membuat pokok kecil
       Pilihlah dua nas, misalnya Lukas 5:1-11 dan Yohanes 2:1-11. Buatlah pokok-pokok kecil. Buatlah mulai dari langkah pertama sampai langkah kelima (tema, kalimat peralihan, pokok besar, pokok kecil).

ILUSTRASI
1.    ILUSTRASI ADALAH JENDELA KHOTBAH
Rumah tanpa jendela bukanlah rumah yang baik dan ideal, apakah itu dari segi estetika maupun dari segi kesehatan. Demikian juga dengan ilustrasi, ia adalah bagian kecil dari sebuah khotbah, namun dapat membuat khotbah lebih indah dan menarik, lebih mengesankan, bahkan dapat membuat khotbah lebih mengena kepada pendengar.

Bahan-bahan Ilustrasi
Kisah dari tokoh Alkitab, majalah, koran, tayangan televisi, alam sekitar, benda-benda sekitar, biografi tokoh, kata-kata bijak, pengalaman riribadi, pengamatan, data-data statistik, dramatisasi, riwayat lagu, karya sastra, karya seni, dan lain-lain (ilustrasi khotbah sebaiknya bersifat ilmiah dengan mencantumkan data atau sumbernya).

Cara mengoleksi ilustrasi:
Membuat kliping dari potongan koran, majalah; Mengumpulkan berdasarkan: abjad atau tema; Membuat filling card (memotong dalam ukuran amplop dibuat seperti menyusun katalog); Mengumpulkan benda, alat peraga: tali, lilin, roti, dan lain-lain.

2.    FUNGSI ILUSTRASI
  1. Membuat khotbah lebih jelas dan mudah dimengerti.
  2. Membuat khotbah lebih indah dan mengesankan.
  3. Membuat pesan khotbah lebih mudah untuk diterapkan dan dilakukan.
  4. Menyatakan suatu contoh kebenaran yang hidup.
  5. Sebagai penghubung antara ide khotbah dan penerapan.
  6. Memberi saat “istirahat” supaya pendengar merasa senang dan tetap segar.
7.      Ilustrasi untuk menjelaskan kebenaran pokok besar atau tema, bukan sebaliknya.
8.      Ilustrasi untuk sarana menjelaskan pokok atau tema khotbah, bukan tujuan khotbah.
9.      Ilustrasi sebaiknya bersifat riil atau ilmiah, bukan dongeng, atau fiksi.
10.  Jangan sering menggunakan ilustrasi dari pengalaman pribadi. cerita keluarga, untukmenghindari “motif negatif dan ekses pendengar”.
11.  Ilustrasi bersifat membangun, bukan pelecehan, diskriminasi, kesombongan pribadi.
12.  Satu ilustrasi sebaiknya dipakai untuk menjelaskan hanya satu kebenaran.
13.  Waspadalah! Jangan menggunakan ilustrasi yang menarik perhatian, lucu, konyol, sensasional, menyita waktu, yang pada akhirnya akan merusak alur logika atau struktur khotbah. Dan, tidak membantu menjelaskan nas.

Ilustrasi bila disajikan dengan cara yang meyakinkan selalu menyegarkan.

3.    SIFAT ILUSTRASI YANG BAIK
  1. Jelas dan menarik.
  2. Singkat dan tdak menghabiskan sebagian besar waktu khotbah.
  3. Tepat dengan isi dan atau poin-poin khotbah.
  4. Harus selalu ingat bahwa ilustrasi hanyalah “bumbu” khotbah.
(Yang utama adalah isi khotbah itu sendiri.)


Langkah VI: Membuat Kesimpulan atau Penutup Khotbah
       Kesimpulan atau penutup khotbah adalah rangkuman dari seluruh khotbah yang telah disampaikan. Isi kesimpulan meliputi: tema, kata kunci, dan pokok-pokok besar.

Saran dalam memberi kesimpulan
  1. Kesimpulan bisa diisi dengan kutipan ayat emas, ilustrasi singkat, tantangan, pujian.
  2. Jika sudah berada dalam tal-yap kesimpulan atau penutup, jangan memasukkan ide barn yang akan membuat antiklimaks.
  3. Kalimat kesimpulan sebaiknya dikonsep sesingkat mungkin, untuk menghindari sikap mengambang, seperti pesawat yang berputar-putar tidak mampu mendarat.


Penutup
1.        Penutup menyiapkan pendengar untuk meresponi atau menanggapi khotbah.
2.        Dari segi informatif, penutup menyimpulkan apa yang sudah dikhotbahkan. Dari segi persuasif, penutup menantang pendengar untuk berpikir dan melakukan.
3.        Penutup bisa menjadi bagian yang terpenting dalam khotbah, sebab kata-kata terakhir biasanya mendatangkan kesan yang dalam.
4.        Rencanakan bagaimana menutup khotbah agar tidak terbang ke mana-mana.
5.        Kesimpulan dan aplikasi dari apa yang dikhotbahkan.
6.        Tidak memberikan konsep baru.
7.        Ada kesinambungan dengan pendahuluan dan isi khotbah.
8.        Ada penerapan yang jitu, yang dapat dilakukan pendengar.
9.        Menjawab pergumulan pendengar.
10.    Meminta komitmen pendengar.

HAL-HAL YANG DAPAT DIPAKAI SEBAGAI PENUTUP
·           Pengulangan, terutama poin-poin yang ditekankan
·           kutipan
·           baca puisi
·           cerita/ilustrasi
·           nasihat/tantangan yang sungguh-sungguh
·           visualisasi (bagaimana kebenaran ini bekerja dalam kehidupan nyata)
·           berdoa
·           saran apa yang harus ditempuh
·           pertanyaan retoris
·           tantangan
·           pernyataan-pernyataan yang mantap

HINDARILAH HAL-HAL INI
·           Ketidaksinambungan dalam daya tarik.
·           Kesimpulan yang panjang dan bertele-tele.
·           Penutup yang mendadak.
·           Memberikan impresi bahwa kita mau menyimpulkan tapi sebenarnya belum.
·           Monoton.
  • Lawakan/humor.
  • Jangan menyatakan pendapat baru.
Jika sudah berkata, “akhirnya/yang terakhir” biarlah itu benar-benar menjadi yang terakhir dari khotbah.

Contoh membuat kesimpulan khotbah (1)
Nas Alkitab
:
Tema khotbah
:
doa yang mengubah keadaan

Kesimpulan
       Doa dapat mengubah keadaan, sudah terbukti dalam kesaksian Nehemia. Ia berdoa dengan terbeban atas keadaan bangsanya, disertai sikap merendahkan diri di hadapan Tuhan, dan berusaha menggunakan potensi serta strategi secara maksimal. Pada akhirnya, segala cita-citanya berhasil. Doa kita juga dapat mengubah keadaan.

Contoh membuat kesimpulan khotbah (2)
Nas Alkitab
:
Tema khotbah
:
Keluarga yang diberkati Tuhan

Kesimpulan:
       Tuhan memiliki perhatian khusus bagi keluarga. Tuhan merindukan adanya pemulihan dalam keluarga. Keluarga kita akan dipulihkan dan diberkati Tuhan, jika kita mengundang Tuhan dalam keluarga kita, jika kita menaati firman-Nya, jika kita menyadari dan menggunakan potensi kita, dan jika kita melangkah dengan iman bahwa kuasa-Nya lebih besar dari segala masalah kita!

Penerapan
Membuat Khotbah Menjadi Relevan
1.        Tujuan khotbah bukan sekedar membagi pengetahuan tetapi kehidupan yang serupa dengan Yesus.
2.        Pengkhotbah harus membuat penerapan karena biasanya pendengar tidak membuat penerapan bagi diri sendiri.
3.        Penerapan tidak harus dalam penutup khotbah tapi bisa di sampaikan pada setiap akhir bagian khotbah.

Ada Dua Aspek yang harus diperhatikan dalam Membuat Penerapan:
1.        Apa yang harus dilakukan
Pendengar seringkali harus diberitahu tentang apa yang harus dilakukan setelah mendengarkan khotbah. Seorang pengkhotbah jangan senang jika orang berkata khotbah tersebut baik (mungkin pikiran, perasaan mereka puas dan disegarkan), tanpa mereka tahu apa yang harus mereka lakukan. Alasan utama adalah karena khotbah harus sampai pada perubahan dan peneguhan sikap dari pendengarnya.
2.        Bagaimana melakukannya
Selain pendengar perlu diberitahu tentang apa yang harus dilakukan, mereka juga perlu diberitahu bagaimana mereka melakukannya. Misalnya mereka dikhotbahkan tentang pentingnya doa dan pembacaan Firman Allah. Kemudian mereka diberitahu bahwa respon yang tepat untuk itu adalah Saat Teduh. Jika hanya berhenti sampai di situ pendengar seringkali menjadi frustasi, sebab di sisi lain mereka ingin bersaat teduh, tapi di sisi lain mereka tidak tahu bagaimana melakukan saat teduh. Mereka perlu diberitahu berapa lama saat teduh, kapan menggunakan saat teduh, bagaimana melakukan saat teduh yang baik, dan sebagainya.

Latihan membuat kesimpulan
       Pilihlah dua nas, misalnya Lukas 5:1-11 dan Yohanes 2:1-11. Buatlah dari langkah pertama sampai langkah kelima (tema, kalimat peralihan, pokok besar, pokok kecil). Kemudian buatlah kesimpulan.

Langkah VII: Membuat Pendahuluan Khotbah
Pendahuluan adalah cara memperkenalkan apa yang akan dikhotbahkan. Sifat pendahuluan seharusnya: singkat, menarik, memberi minat tuk mendengar, sederhana (seperti iklan, seperti etalase toko, yang membuat orang tertarik). 
Pendahuluan adalah jendela yang baik agar orang dapat melihat ke dalam isi khotbah. Penutup membuat orang ingat apa yang sudah didengarnya dan bagaimana bersikap sesuai dengan khotbah yang baru didengarnya      
Sekalipun pendahuluan dalam urutan kerangka khotbah adalah urutan pertama, dalam langkah membuatnya adalah urutan terakhir, sebab pendahuluan menjadi sarana memperkenalkan isi khotbah. Karena isi khotbah harus dibuat lebih dahulu.
       Pendahuluan harus singkat, memiliki hubungan langsung dengan tema khotbah atau nas. Dan, memiliki hubungan langsung dengan pendengar. Hindarilah sikap atau kesan kurang siap, tidak percaya diri, kurang simpatik, kurang menguasai bahan. Atau, hindarilah sikap yang berlebih-lebihan dengan banyak janji.
Pendahuluan merupakan bagian yang mempengaruhi dalam khotbah. Pendahuluan menyiapkan pendengar untuk mendengar. Jika gagal di pendahulan, khotbah sudah separuh gagal. Tugas bagian pendahuluan khotbah pertama-tama ialah menciptakan keserasian pemikiran antara pembicara dan pendengar, dan menghantar pendengar masuk ke dalam masalah atau bahan yang akan dijelaskan.

Tujuan dari Pendahuluan
1.    Pendahuluan menarik perhatian pendengar untuk berminat terhadap isi khotbah.
2.    Pendahuluan mempersiapkan pendengar untuk dapat menerima pesan khotbah itu sendiri. Karena itu lebih baik jika menyentuh keperluan-keperluan manusia, membangkitkan motivasi dan semangat.

Tehnik Menjadikan Pendahuluan Efektif
2.    Merangsang Perhatian Pendengar
Pada umumnya orang lebih suka berbicara daripada mendengarkan. Apabila tidak ada pendahuluan yang baik dan menarik serta menantang biasanya pendengar sudah bosan dahulu. Karena itu merangsang pendengar untuk mau mendengarkan khotbah perlu dirancang secara baik. Rancanglah pendahuluan yang efektif dengan ceritera lucu/humor, dengan ceritera yang menyentuh hati, dengan fakta-fakta yang sedang terjadi, dengan pertanyaan- pertanyaan yang menantang pendengar untuk mau tahu persoalan yang sedang dibicarakan, dengan pernyataan-pernyataan yang argumentatif yang membuat pendengar berpikir, semua itu akan membangkitkan keinginan pendengar untuk mengikuti khotbah lebih lanjut. Intinya, buatlah pendahuluan yang merangsang akal pendengar, yang menyentuh perasaan pendengar, yang membangkitkan kehendak pendengar. Pendahuluan khotbah harus menyebabkan pendengar senang sehingga mereka suka mendengar khotbah selanjutnya.

3.    Memancing pemandangan pendengar
Untuk membuat pendahuluan menarik bisa digunakan metode-metode yang dipandang agak lain oleh pendengar, tapi tetap memperhatikan prinsip bahwa pendahuluan harus menarik. Kita bisa menggunakan alat peraga atau penjelasan melalui layar ohp sebagai pendahuluan. Waktu saya kuliah semester pertama di sekolah alkitab, pada suatu kebaktian minggu, dosen kami membawa pot bunga yang setinggi lutut dan sudah dicat sehingga menarik dan bagus. Ketika ia di mimbar, ia mengangkat pot tersebut lalu dibantingkan di lantai, dan pot itupun pecah berantakan. Ia berkata bahwa seperti pot yang sudah hancur tersebut demikianlah manusia yang jatuh di dalam dosa. Keadaannya berantakan, tidak tertolong, rusak total. Pot tersebut tidak bisa diperbaiki kembali kecuali jika pembuatnya melebur kembali dan kemudian membentuk kembali. Manusia tidak mungkin menjadi baik dan indah lagi jika ia tidak kembali ke tangan penciptanya. Cara ini sangat menarik. Contoh lain, ada seorang pengkhotbah yang maju ke mimbar seolah-olah terpeleset dan nampak jatuh kemudian ia bangun lagi sambil tersenyum (seolah-olah karena memang ia sengaja) ketika menaiki anak-anak tangga menuju mimbar. Jemaat tertawa dan sebagian prihatin. Lalu ia berkata, kita bisa terpeleset dan jatuh tapi tidak harus tergeletak. Mari kita merenungkan Firman Tuhan dengan tema, “Jatuh tapi tidak tergeletak”. Cara inipun menarik. Intinya, selingilah khotbah kita dengan peristiwa- peristiwa yang tidak biasanya namun dalam batas ketertiban. Atau gunakan alat peraga lainnya di mana perlu.

Sifat Pendahuluan yang Baik
1.    Singkat
2.    Jika pendahuluan singkat tetapi berkesan, maka orang akan bersemangat, tetapi jika panjang dan bertele-tele maka akan menciptakan kebosanan.
3.    Jelas
4.    Menarik (pikiran, perasaan, kehendak)
5.    Tidak terlalu lembut berbicara
6.    Tidak minta maaf
7.    Terlalu menyatakan apa yang akan dibahas
8.    Tidak memulai dengan ‘kalau’,’andaikan’.



Beberapa Petunjuk Untuk Memulai Khotbah
1.    Berdoalah dalam hati dan mulailah dengan tenang.
2.    Pikirkanlah bahwa berita Firman Tuhan yang akan disampaikan penting untuk didengarkan.
3.    Mulailah berkata-kata dengan tidak memandang naskah tetapi memandang pendengar.
4.    Berusahalah untuk menarik perhatian pendengar.
5.    Bervariasilah dalam setiap memulai khotbah.
6.    Mulailah jika seluruh ruangan sudah tenang.

Contoh membuat pendahuluan khotbah (1):
Pendahuluan
       Banyak masalah, yang ada di sekitar kita yang tidak mampu kita ubah baik melalui strategi, metode, kemampuan, maupun potensi kita. Bahkan, keberhasilan dan pengalaman masa lalu juga tidak bisa mengubah masalah masa kini, baik itu masalah ekonomi, keamanan, kesehatan, keluarga, dan lain-lain. Apakah ada peluang kita mengubah keadaan? Kita akan belajar dari firman Tuhan dengan tema khotbah: Doa yang Mengubah Keadaan. Bagaimana langkah-langkahnya?
Nas Alkitab
:
Tema khotbah
:
Doa Yang Mengubah Keadaan

Contoh membuat pendahuluan khotbah (2):
Pendahuluan
       Keluarga adalah lembaga Ilahi yang dibentuk oleh Allah. Kepedulian Yesus menghadiri pernikahan di Kana dengan melakukan mukjizat pertama-Nya, memberikan bukti bahwa Allah yang membentuk keluarga juga berkenan memberkati keluarga. Keluarga kita juga akan diberkati oleh Allah. Langkah-langkah apa saja yang perlu kita lakukan agar keluarga kita diberkati?
Nas Alkitab
:
Tema khotbah
:
Keluarga Yang Diberkati Tuhan



Latihan membuat pendahuluan khotbah:
       Pilihlah dua nas, misalnya Lukas 5:1-11 dan Yohanes 2:1-11. Setelah menyelesaikan langkah pertama sampai langkah keenam (tema, kalimat peralihan, pokok besar, pokok kecil, penutup). Kemudian buatlah pendahuluan khotbah.

Latihan membuat khotbah ekspositori secara lengkap
       Buatlah dua kerangka khotbah secara lengkap, satu dari Perjanjian Lama dan satu dari Perjanjian Baru, dengan menerapkan tujuh langkah membuat khotbah ekspositori. Setelah menyelesaikan ketujuh langkah membuat khobtah ekspositori, untuk mempersiapkan teks khotbah, bisa ditulis dalam bentuk garis besar, juga sangat baik ditulis dalam bentuk naskah lengkap siap baca.


PERSIAPAN FISIK DAN PSIKIS

Di bawah ini akan dijelaskan beberapa anjuran untuk mempersiapkan fisik dan psikis sebelum tampil untuk membawakan khotbah. Anjuran ini dapat dipergunakan di mana perlu.
1.        Jika kita sudah berdoa dan menggumuli khotbah kita di hadapan Tuhan, kita seharusnya yakin bahwa Tuhan mau menyertai kita dalam berkhotbah.
2.        Jika kita sudah mempersiapkan naskah khotbah secara maksimal dan mencoba menguasainya, maka kita akan menjadi tenang untuk memulai berkhotbah. Setelah berdoa dan persiapan yang baik, kita akan menjadi antusias untuk berkhotbah.
3.        Makanlah yang cukup sebelum berkhotbah, supaya kita memiliki kekuatan yang memadai dalam berkhotbah. Tetapi jangan makan kekenyangan karena akan membuat tubuh kita lemah dan akan sulit konsentrasi.
4.        Jika kita diundang untuk berkhotbah jam lima atau jam enam pagi (banyak gereja memiliki jam-jam ibadah tersebut) makanlah sebuah kue dan minum air hangat atau teh manis hangat.
5.        Jika kita masih gugup sewaktu akan mulai berkhotbah minumlah segelas air (coba pikirkan mengapa orang kaget harus minum air putih terlebih dahulu). Jika hari tersebut kita berkhotbah sampai lima kali, maka baik jika kita minum sedikit air manis (sirup /teh) untuk membuat suara kita tidak gampang serak.
6.        Pergilah ke toilet sebelum berkhotbah. Hal ini nampaknya remeh tetapi dapat mengganggu apabila di tengah-tengah khotbah kita harus terdesak untuk buang air (baik kecil maupun besar)
7.        Pergilah menghadap cermin untuk memeriksa kembali penampilan kita secara utuh. Hal ini akan menolong kita untuk bebas dalam berkhotbah. Misalnya kita sedang berkhotbah lalu ada kancing baju kita yang terlepas, hal ini dapat mengganggu konsentrasi orang untuk mendengarkan khotbah kita.
8.        Datanglah lebih awal dan rilekslah. Seorang pengkhotbah yang datang agak terlambat biasanya akan gugup sedikit. Kalau ia tidak gugup paling tidak sudah membuat calon pendengar merasa was-was.
9.        Jika kita akan berkhotbah beberapa kali dalam satu hari, ambillah kesempatan untuk istirahat dan tidak disibukkan dengan pembicaraan dengan orang lain. Kita harus melatih diri untuk tidak sungkan mengambil waktu istirahat. Semua ini agar khotbah tetap disampaikan dengan semangat dan antusias dan dengan konsentrasi yang tinggi. Jika kita berkhotbah sampai empat-lima kali, maka jika kita tidak beristirahat, khotbah yang keempat dan kelima tersebut sudah sangat berkurang penyajiannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar